Rabu, 02 Maret 2016

The Maze Runner by James Dashner

Novel fiksi ketiga yang saya baca di bulan Januari 2016 adalah The Maze Runner karya James Dashner. Tiga dari empat novel yang dibaca di bulan Januari 2016 sudah saya tonton versi film adaptasinya. Secara tidak langsung saya penasaran akan versi novelnya. Kebetulan perpustakaan daerah baru saja merilis keempat buku tersebut untuk dipinjamkan. Maka jadilah saya meminjam Supernova:KPBJ, The Maze Runner, dan Jalan Lain ke Tulehu.

Pertama kali menonton The Maze Runner saya tidak terlalu terkesan. Tema dystopia atau post-apocalyptic yang sama sudah pernah diangkat oleh Trilogi Divergent atau Hunger Games. Anak-anak yang dikurung dan diminta mencari jalan keluar sudah pernah difilmkan lewat The Hunger Games. Bagi saya, daya tarik Maze Runner hanyalah kumpulan bintang serial televisi Game of Thrones dan Teen Wolf yang unyu-unyu. Versi film Maze Runner adalah film yang enak dinikmati sambil makan pecel lele atau mangut patin, tidak beda jauh dengan berita sampah di televisi. Versi novelnya mirip. Bedanya: penulis novel lebih bisa menarik pembaca untuk terus penasaran dengan nasib tokoh-tokohnya dibanding versi filmnya. Kemampuan mendramatisasi cerita Dashner lebih bagus ketimbang sutradara versi film.

Penokohan sebagian besar karakter utama seperti Thomas, Teresa, Newt, dan Minho sama. Tapi versi novel lebih bagus menggambarkan konflik antar karakter, sementara versi film sangat baik memvisualkan perjuangan remaja-remaja Glader keluar dari labirin. Tiga dari 5 bintang untuk The Maze Runner. 

0 komentar: