Selasa, 01 Maret 2016

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh oleh Dewi Lestari

Dewi Lestari (@deelestari) adalah salah satu legenda hidup dunia sastra Indonesia. Berbagai judul karyanya seperti Madre dan Perahu Kertas sudah terjual ribuan kopi buku, dan diangkat menjadi film lari. Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah salah satu karya awalnya yang legendaris. Buku yang konon sudah laku ratusan ribu kopi sejak pertama kali diterbitkan tahun 2001 dan menjadi literatur wajib ratusan perpustakaan, persewaan buku, dan badan arsip ini adalah salah satu karya sastra Indonesia yang wajib dibaca. Dibandingkan dengan karya-karya Andrea Hirata, Supernova mungkin kurang hype. Namun gaung Supernova lebih awet hingga belasan tahun sejak pertama kali diterbitkan, sementara Laskar Pelangi sudah dilupakan orang.

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh bercerita tentang sepasang kekasih Reuben dan Dimas yang menulis sebuah fiksi transendental, dengan karakter yang diambil dari kenalan-kenalan jauh mereka. Dialog Dimas-Reuben, serta cerita yang mereka tulislah yang menghidupkan KPBJ. Dibandingkan novel-novel fiksi lain yang mengambil sudut pandang orang ketiga serba tahu, KPBJ menawarkan sesuatu yang berbeda: cerita yang dibangun lewat dialog. Sepengetahuan saya, baru Meg Cabot yang melakukannya. Tidak ada penggambaran situasi yang terlalu mendetail, tidak ada konflik yang terlalu tajam dan menguras emosi, hanya cerita yang terus menerus mengalir. Rasa penasaran yang ditimbulkan Dewi Lestari sangat kuat sehingga saya tidak sanggup meletakkan KPBJ walau sedetikpun. Apa yang terjadi selanjutnya? Pertanyaan ini terus menerus menghantui saya, dan memaksa saya terus menerus membaca.

Saya membaca cetakan ketiga edisi kedua dari KPBJ. Buku edisi pertama yang terbit di tahun 2001 tidak memuaskan, terlalu panjang dan bertele-tele. Cetakan buku dan kertasnya terlalu besar juga membuat saya enggan menamatkannya. Tapi edisi kedua ini sungguh luar biasa. Sangat direkomendasikan untuk dibeli, dikoleksi, dan dibaca berulangkali. 4 dari 5 bintang untuk KPBJ.

0 komentar: