Senin, 30 Agustus 2010

Fiksi Gas

   Sudah 3 bulan ini saya kecanduan twitter. Efek samping dari World Cup juga sih. Karena setiap kali ada pertandingan di televisi pasti ikut-ikutan nulis di twitter. Lebih tepatnya ngerumpi dengan sesama pengguna twitter. Asal pakai kata kunci atau hashtag yang sama pasti bisa terhubung. Tidak harus saling mengikuti (follow). 
   Akun twitter yang baru-baru ini saya ikuti adalah @gaselpiji3kg. Ini adalah akun twitter yang aktif mengkritik kebijakan konversi gas pemerintah yang tidak lancar dan terkesan lepas tanggung jawab antar instansi. Hal ini tercermin dari lambatnya penanganan korban ledakan gas. Tweet @gaselpiji3kg yang berkesan menurut saya adalah tweet-tweet pada tanggal 26 Agustus 2010 yang berjudul fiksi gas. Begini ceritanya:


    Ya kita ceritain pengalaman temen gue aja ya waktu ada kebocoran gas di rumahnya...Jadi sewaktu temen ini masak tiba-tiba ada bunyi mendesis lumayan kenceng...Panik, dia malah lari dulu (selamatkan diri, gitu katanya). Tabung, dll masih ditinggal di dapur. Sekitar panik 5 menit, dan karena takut dia panggil teman serumahnya untuk cek tabung, dll yang masih mendesis di dapur. Temannya bingung. Browsing google kilat, dia copot regulator, taro @gaselpiji3kg di ruang terbuka. Tapi masih ada bunyi mendesis. Ditengah panik (dan tetangga juga) disuruh tutupin tabungnya pake kain/handuk basah. Tabung @gaselpiji3kg mendesis terus! 
     Panik, dia inget nasihat twit kita, telpon Pertamina: 500 000. Pertamina: 500 000 yang nerima mbak-mbak. Disuruh tenang, dan petugas akan datang segera, katanya. Sementara, tabung @gaselpiji masih mendesis terus, makin kenceng. Ditutupi handuk basah, sampe ketutupan semuanya. Untungnya, di lingkungan sekitar saat itu nggak ada yang bakar sesuatu. Akhirnya tabung @gaselpiji3kg -nya mendesis sampe habis, kira2 3-4 jam gitu (ampe malem). Dan petugas Pertamina blum dateng juga! Untung juga diwanti-wanti di sekitar situ ada yang jaga, supaya nggak ada yang nyalain api malam itu. Tabung dibiarin di luar terus sampe besoknya jam 11. Baru si petugas Pertamina dateng! Terus si petugas pertaminanya dengan anteng bilang, "Oh, silakan dituker aja ke agen terdekat." 
    Jadi kalo ada gas bocor, nggak ada pihak dari Pertamina yang tanggung jawab? Datengnya telat lagi! Gimana kalo tewas duluan? Ini buat bingung. Pertamina bikin no. pengaduan Pertamina: 500 000 itu harusnya buat reaksi cepat dong! Kalo pengaduan Pertamina itu nggak kerja, ngapain dibuat! Tapi ini bikin bingung berlanjut...Trus kita harus ngadu ke siapa kalo ada kebocoran @gaselpiji3kg? Polisi? Pak RT? Koramil? 
    Cerita ini nunjukin bahwa konsumen @gaselpiji3kg itu yang paling rugi. Pertamina gak tanggung jawab. Semua ditanggung sendiri! Demikian ceritanya. Jadi seperti yang pernah dibilang, pemerintah cq Pertamina cuma bikin proyek doang ini mah ceritanya.

     Sungguh cerita pendek yang menyindir kemampuan pemerintah dan Pertamina dalam menangani ledakan gas. Saya sendiri belum pernah mencoba menelepon 500 000, karena ketika ada tabung gas bocor di lingkungan perumahan saya langsung dimasukkan ke drum berisi air (kebetulan yang bocor gas 12 kg). Untung tidak ada yang main mercon atau api ketika tabung belum dimasukkan drum, jadi aman-aman saja.
 

0 komentar: