Kamis, 22 November 2012

Fiscal Cliff


Kalau teman-teman sering membaca koran Kontan atau menonton CNBC dan Bloomberg, pasti sering mendengar istilah Fiscal Cliff. Dari ekspresi serius dan khawatir presenter berita, bisa dipastikan Fiscal Cliff adalah ancaman bagi perekonomian Paman Sam.
Menurut Salman Khan di situs www.cnbc.com, Fiscal Cliff mencakup pengurangan belanja pemerintah, pajak dividen 40% (bagi saham yang listing di bursa), tingkat pajak naik s/d 35%, dan kenaikan pajak buruh sebesar 2%.

Sejarah mulainya Fiscal Cliff dimulai saat Obama mencanangkan Medicare (layanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat Amerika). Medicare tidak mungkin dibiayai dan dilayani oleh BUMN seperti AIG karena mereka sendiri masih dirundung utang. Jalan satu-satunya, dibiayai Pemerintah Federal AS. Padahal utang pemerintah sendiri sudah sangat tinggi. Utang yang ditumpuk selama Obama memerintah jauh melampaui utang 400 presiden sebelum dirinya. Kabar baiknya, Kongres AS juga dikuasai Partai Demokrat tempat Obama berasal. Demokrat setuju untuk mengesahkan Medicare, tapi mereka mensyaratkan pemotongan belanja pemerintah dan kenaikan pajak. Republik, di sisi  lain, tidak menyetujui Medicare dan kenaikan pajak walau setuju pemotongan belanja pemerintah.
Demokrat menguasai Kongres (legislatif) dan Presiden (eksekutif). Jadilah Undang Undang Medicare disetujui, dan begitu pula dengan Fiscal Cliff.
Bagi pemerintahan sosialis seperti China dan Jerman tingkat pajak tinggi tentu bukan masalah. Pajak di Jerman saja mencapai 60%. Tetapi tingkat produktivitas buruh berbanding upah di kedua negara tersebut relatif besar. Kalau China terkenal dengan upah buruh relatif yang murah, Jerman kondang dengan produktivitas per orang yang tinggi. Tapi bagi negara liberal kapitalis seperti Amerika, pajak sebesar itu jelas menjadi masalah.
Masalah pertama: produktivitas per orang buruh Amerika tidak setinggi Jepang, Jerman,China atau Brazil. Sementara upah untuk membayar buruh relatif tinggi, belum termasuk asuransi dan fasilitas wajib buruh yang berbeda-beda di tiap negara bagian. Kenaikan pajak buruh bisa mendorong buruh untuk meminta kenaikan upah, dan berujung dengan kebangkrutan perusahaan karena tidak bisa membayar upah buruh yang tinggi.
Kalaupun pengusaha mampu membayar upah buruh, mereka belum tentu bisa membayar pajak pabrik dan usaha yang juga naik. Pengusaha manapun yang cerdas akan berpikir dua kali untuk melanjutkan usahanya, dan memutuskan untuk memindahkan pabriknya ke Mexico, China atau Vietnam. Dua hal ini bisa mendorong naiknya tingkat pengangguran di Amerika hingga ke angka 40% (seburuk-buruknya).
Pengurangan belanja pemerintah (government spending cut) memicu berkurangnya belanja konsumsi dan sektor usaha. Menurut ilmu ekonomi, belanja pemerintah merupakan salah satu faktor pemicu pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bila belanja pemerintah dikurangi, maka arus uang dari pemerintah ke masyarakat juga berkurang. Efek lanjutan dari pengurangan belanja pemerintah adalah konsumsi dan belanja yang melambat. Sisi positifnya, inflasi kemungkinan besar berkurang karena kekuatan belanja (power purchase) penduduk menyusut.
Dari sudut pandang pelaku pasar modal, pajak dividen sebesar 40% adalah hal yang menakutkan. Kemungkinan menarik untung dari perdagangan saham dan surat berharga semakin kecil karena dana dari pemodal-pemodal besar bisa keluar dari pasar modal (capital outflow). Dana pensiun (walau dikecualikan dari pajak dividen), hedge funds, dan private banking bisa saja memutuskan untuk mengurangi investasinya di NASDAQ dan NYSE, dan beralih ke bursa saham negara berkembang yang prospektif seperti Brazil, India, China atau Indonesia.
Sisi positif dari Fiscal Cliff antara lain : semakin banyak perusahaan manufaktur Amerika yang memilih untuk berproduksi di Asia, terutama China, Indonesia, Bangladesh dan Vietnam. Untuk alasan pajak dan efisiensi, 4 negara ini layak dijadikan tujuan investasi. Beberapa pemilik perusahaan padat modal pun memilih untuk menjual sebagian atau seluruh kepemilikannya ke taipan Jepang daripada harus membayar pajak luar biasa tinggi. Saat ini raksasa telekomunikasi Sprint sudah dikuasai Jepang, Toyota dan Daiso Corp sudah bergerak mengakuisisi beberapa perusahaan elektronik.
Dari JSX, mungkin kita harus bersiap-siap menghadapi arus modal keluar dalam medio Desember-Februari. Walaupun saat itu ada windows dressing, tapi investor dan hedge fund besar wajib merencanakan kembali strategi investasi mereka menghadapi fiscal cliff. Untuk sementara mereka akan mengalokasikan dana investasi mereka ke aset-aset yang dianggap aman seperti US$ (dolar Amerika Serikat), TreasuryBond, Yen Jepang, atau SwissFranch.

0 komentar: