Rabu, 28 November 2012

Reksadana BNP Paribas


Medio 2000an, Fortis terkenal sebagai salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia. Nilai dana kelolaannya mencapai 40Trilyun rupiah. Fortis dan Schroeder adalah 2 manajer investasi asing yang berjaya dari bisnis reksadana dan wealth management. Reksadana kelolaan mereka hanya dijual di bank, tidak bisa diperoleh langsung dari manajer investasi seperti layaknya manajer investasi lokal seperti Danareksa atau Panin. Biaya pembeliannya (fee) termasuk besar, lebih dari 1% per pembelian.
Tahun 2008 muncul berita kalau salah satu investor asing berminat mengakuisisi Fortis. Rumor itu benar. BNP Paribas, bank ke-2 terbesar di Prancis mengakuisis Fortis. Dan berganti namalah Fortis menjadi BNP Paribas Investment Partners. Segenap prefiks Fortis dalam reksadana kelolaan mereka diganti dengan awalan BNP Paribas. Seperti Fortis Equitra berganti nama menjadi BNP Paribas Equitra.

Strategi investasi mereka tidak berubah. Cenderung membeli saham-saham big cap LQ45 sebagai saham utama pada reksadana kelolaan mereka. Big cap adalah saham-saham yang punya nilai di atas 100 trilyun di pasar modal. Hanya 8 saham yang masuk big cap. Diantaranya Astra International (ASII), Bank Mandiri (BMRI), BBCA (Bank BCA), HM Sampoerna (HMSP), Unilever (UNVR), Telkom (TLKM), Bank BRI (BBRI), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS).  BNP Paribas alias Fortis mengombinasikan 4 diantaranya (ASII,BMRI,BBRI,TLKM) dengan saham-saham LQ 45 lain, terutama dari sektor perbankan seperti bank Permata (BNLI), bank NISP, atau bank Danamon (BDMN).
Saham lapis kedua atau second liners memang jarang masuk top 5 holding BNP Paribas. Entah karena mereka merahasiakan saham-saham apa saja yang diambil atau diversifikasi yang terlalu luas sehingga saham second liners yang mereka miliki tidak pernah melebihi 4% Nilai Aktiva Bersih.
BNP Paribas bahkan punya reksadana khusus perbankan yang dinamai BNP Paribas Equitra. Top 5 stock holding Equitra adalah perbankan. Kalau mau diversifikasi, Equitra sesuai bagi teman-teman yang sudah mengoleksi TRAM Consumption, Mawar Konsumer 10 atau Mawar Komoditas 10.
Karena hanya bisa dibeli di bank, saya lebih suka membeli reksadana dari BNP Paribas di CommonwealthBank. Paling tidak saya bisa beli-jual dengan mudah via internet banking. Biaya yang dikenakan termasuk mahal,1.1% per pembelian dan tidak bisa dicairkan kurang dari setahun.
Dilihat dari kinerjanya, reksadana-reksadana kelolaan BNP Paribas cukup bagus untuk ukuran reksadana dengan portofolio mayoritas Big Cap,walau jelas tidak sebagus reksadana yang menggabungkan Big Cap dengan saham-saham second liners atau reksadana yang hanya berisi second liners. Kalau dibuat garis korelasi regresi, kinerja reksadana BNP Paribas berbanding lurus dengan pergerakan Astra International dan Bank Mandiri. Kedua saham ini cukup mudah dipantau dan dianalisa pergerakannya menggunakan foreign net buy/foreign net sell. Dilihat dari pergerakan Astra hari ini, sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk membeli reksadana BNP Paribas.
Kekurangan dari reksadana-reksadana BNP Paribas adalah kenaikannya tidak begitu tinggi. Tapi hal ini juga merupakan kelebihannya. Kalau bursa sedang kebakaran/bearish/dibanting, mereka turunnya tidak terlalu dalam. Misalnya kalau Astra sedang turun, dan biasanya Unilever tidak terlalu turun (kadang malah naik), maka nilai NAB reksadana tidak ikut turun dalam. Teman-teman yang punya BNP Paribas Pesona Amanah mungkin bisa mengamati.
Menilik portofolio yang dimiliki, saya sarankan untuk membeli Pesona Amanah, Ekuitas, Infrastruktur Plus, Pesona, Spektra dan Star kalau bursa saham sedang naik (bullish) dan berminat investasi jangka panjang di atas 3 tahun. Kalau bursa sedang turun, saya saran mengambil Solaris (isinya saham defensif seperti Mawar Konsumer 10) dan Prima II (reksadana pendapatan tetap). 

4 komentar: