Sabtu, 29 Juni 2013

Trading Plan (Rencana Trading)


IHSG per 28 Juni 2013
Kalau sedang tidak malas, saya kadang iseng-iseng trading pake plan atau rencana trading. Ga usah yang muluk-muluk, pilih saham-saham properti yang sedang tren naik saja. Kenapa properti? Pertama harganya relatif murah, kedua volume saham beredarnya juga cukup likuid untuk ditradingkan, ketiga kalau sedang sideways selisihnya tidak terlalu besar sehingga bisa ambil keuntungan 2-5 poin saja.

Saya biasanya memilih saham-saham yang fundamentalnya bagus saja, seperti ASRI, Grup Ciputra (CTRA, CTRP,CTRS) atau Lippo (LPCK,LPKR). Saya pilih ketiga grup ini karena mereka sudah cukup lama berkecimpung di bidang properti. Kelemahan dari saham-saham tersebut adalah kalau sedang diam atau sideways bisa lama sekali, sampai berminggu-minggu. Sebagai investor wanita, saya sih baik-baik saja menunggu lama.
Contoh trading plan saya
Saham
Beli
Target
Timeline (hari bursa)
Toleransi target (±2%)
Cutloss (-4%)
LPKR
1400
1540
5
1470 / 1500
1320
LPCK
8200
9200
5
8700
7850
CTRA
1270
1400
8
1350
1200
CTRP
1200
1270
10
1250
1140
CTRS
3300
3800
10
3600
3000
ASRI
750
830
4
800
700

Contoh di atas untuk trading dengan timeline sedang, yaitu 5-10 hari bursa. Semakin pendek jangka waktu, semakin kecil target yang dipasang. Misal saya antri beli ASRI di 800, tapi cuma ingin trading sehari karena ga sempat ngeliat monitor, ya saja pasang jual di 830, tidak peduli seberapa tinggi harga yang bisa dicapai. Walau ASRI naik jadi 900 pun saya tidak akan menyesal sudah melepasnya di 830, karena dari awal niatnya cuma segitu.
Kalau sudah punya trading plan, yang paling sulit adalah disiplin melaksanakannya. Terlanjur dijual, eh harganya meroket. Ditunggu lama, harganya ga bergerak atau malah turun. Terlanjur jual rugi (cutloss) malah naik tinggi sekali.
Misal ada potensi harga naik, kita bisa saja disiplin pada rencana trading kita atau tahan tidak dijual. Dengan catatan kita punya waktu luang buat trading aktif dan siap menanggung risiko kalau turun dalam tidak menyesal.
Misal ASRI sedang naik dari 830 ke 870, kita pasang jual di 860. Dalam proses 830 ke 860 kita bisa memindahkan antrian jual kita ke 870. Saat antrian jual di 860 hampir habis dan saham kita belum laku, kita bisa memindahkan lagi ke 880 atau langsung 900. Atau “withdraw/cancel”, menarik antrian jual jika mendadak kita tidak ingin dulu menjualnya dan ingin melihat sampai mana ASRI sanggup naik. Dengan asumsi kita selalu melihat layar software online trading dan koneksi internet kita lancar, kita bisa langsung jual di antrian beli tertinggi saat ASRI mulai diam atau di”guyur” dari 890 ke 880.
Dari pengalaman pribadi saya, metode di atas sangat sulit dilakukan karena butuh konsentrasi tinggi dan koordinasi motorik mata-tangan yang sempurna. Trader-trader yang pernah merasakan bursa pra online trading mungkin sudah sangat terlatih dengan hal di atas.
Saat harga turun naik (seperti 2 minggu ini) saat itulah mental kita diuji. Apakah kita akan berteriak-teriak panik, menangis atau tenang-tenang saja. Umumnya, investor dan trader wanita lebih tenang dan tidak panik karena sudah mengumpulkan opini analis dan menganalisa fundamental saham sebelum memutuskan membeli. Trader pria biasanya panik, bahkan ada yang langsung jual rugi. Investor pria biasanya lebih tenang dengan alasan yang sama dengan trader/investor wanita. Mereka biasanya akan berbagi keadaan serupa beberapa tahun silam saat market bearish.
Kalau kita trader jangka pendek, berpeganglah pada rencana trading. Trading itu seperti bisnis, harus ada aliran dana (cashflow). Kalau tidak disiplin, darimana kita dapat aliran dana? Investor pun harus punya rencana investasi, karena cashflownya bergantung pada dividen suatu saham.

4 komentar: