Minggu, 08 Maret 2015

Kompasiana: Jelajah Negeri Sendiri


      Kompasiana, salah satu platform blog lokal, kembali menerbitkan buku. Kalau sebelumnya tema nasionalisme yang disajikan dalam bentuk naratif yang dibukukan, sekarang perjalanan keliling Indonesia yang disajaikan dalam tema besar Merawat Nasionalisme. Jika kedua buku sebelumnya cenderung menyajikan tema nasionalisme dalam bentuk curhat, maka tema jalan-jalan yang dibungkus nasionalisme ini disajikan dalam wujud narasi deskriptif.
       Teman-teman yang pernah membaca DestinASEAN atau TNT Anthology mungkin merasa familiar dengan format buku ini. Sama-sama berisi kumpulan cerita jalan-jalan (traveling), sama-sama ditulis oleh pelancong dan sama-sama kurang promosi. Bedanya, DestinASEAN dan TNT Anthology mengambil pendekatan narasi pengalaman dan perasaan penulisnya saat melakukan perjalanan. Sedangkan Jelajah Negeri Sendiri memilih pendekatan deskriptif.
      Jika dalam DestinASEAN dan TNT Anthology kita bisa tertawa, terharu dan ikut kesal, maka di Kompasiana kita hanya disuguhi bagaimana cara sampai ke suatu obyek wisata, dimana mencari pemandu, atau tempat menginap terbaik. Membaca Jelajah Negeri Sendiri, saya jadi teringat Lonely Planet. Tinggal tambahkan peta dan rincian GPS, maka jadilah Jelajah Negeri Sendiri versi lokal dari Lonely Planet.
      Dibanding DestinASEAN dan TNT Anthology, Jelajah Negeri Sendiri terasa lebih kering, kurang greget akibat sedikitnya pengalaman dan kesan yang ditampilkan penulisnya. Sepertinya editor buku ini kurang memperhatikan selera pembaca buku bertema jalan-jalan, atau ia cenderung menyukai tulisan yang bersifat teknis. Atau karena sebagian besar kisah di buku ini bisa dijumpai di versi digital Kompasiana, maka ia tidak merasa berkewajiban memoles deskripsi di dalamnya agar lebih menarik.
       Cukup 1.5 dari 3 bintang untuk buku seharga IDR 50 ribu dan setebal 275 halaman ini.

0 komentar: