Minggu, 01 Maret 2015

Why Nations Fail : The Origins Of Power, Prosperity And Poverty By Daron Acemoglu Dan James A Robinson

Why Nations Fail ? (Mengapa Negara Gagal?) merupakan  salah satu buku yang sering sekali dikutip dalam editorial dan opini media-media beroplah besar seperti Kompas, Tempo dan New York Times. Buku lain yang juga sering disinggung adalah Guns, Germs and Steel dari Jared Diamond. Menurut Mayong Laksono dalam Intisari, kedua buku ini sangat relevan dikaitkan dengan kondisi demokrasi dan perbedaan pertumbuhan antar negara dan benua dewasa ini.

Walaupun kedua buku tersebut sama-sama membahas bangun jatuhnya perekonomian sejumlah negara, tapi Why Nations Fail menambahkan peran demokrasi secara mendetail terhadap pemerataan pertumbuhan ekonomi. Keputusan politik sangat menentukan keberhasilan perekonomian dan pemerataan kesejahteraan warga di suatu negara. Institusi ekonomi yang tepat bisa menentukan keberhasilan ekonomi suatu negara. Institusi ekonomi yang tepat bisa menentukan keberhasilan ekonomi suatu negara / wilayah  (dari sinilah muncul kredo kutukan sumber daya alam). 
Acemoglu dan Robinson menjelaskan premis-premis di atas melalui sejarah negara-negara yang tersebar di 6 Benua. Keduanya juga menjelaskan perlunya setiap orang menghargai proses demokrasi yang berlangsung, menghargai betapa pentingnya perbedaan pendapat dan menyadari bahwa ketergantungan pemerintahan atau politik terhadap sumber daya alam justru bisa membahayakan. Institusi ekonomi ekstraktif cenderung membuat manusia menjadi serakah dan korup karena kurangny rasa kepemilikan dan minimnya partisipasi masyarakat sekitar.
Why Nations Fail menggambarkan bahwa adanya dominasi satu kelompok politik saja dalam satu negara justru memunculkan kediktatoran dan penderitaan bagi mayoritas warga negara. Contohnya: Indonesia di Era Soeharto, Tiongkok di Era Mao Zedong, atau Venezuela di era Hugo Chavez.
Tangan-tangan tak terlihat, terminologi yang dipakai adam smith, juga berlaku di dunia politik. Dalam buku ini, Acemoglu dan Robinson berargumen bahwa untuk menjaga kepentingan diri dan kelompoknya, sejumlah orang akan memanfaatkan kemakmuran dan modal politiknya untuk menarik ulur hukum dan peraturan, seperti yang terjadi di Inggris, Prancis dan Botswana. Uraian-uraian keduanya membantu kita memahami kenapa Freeport sangat sulit untuk tunduk kepada pemerintah RI dan kenapa Indonesia harus membayar 4.5 Milyar Gulden sebagai harga kemerdekaan.
Kalau melihat dari struktur kata, keruntutan tema dan pemilihan kata, buu setebal 582 halaman ini sangat enak dibaca. Kita bisa membandingkan uraian peristiwa sejarah dalam buku ini dengan pelajaran sejarah versi pemerintah yang didapat di bangku sekolah. Lembar demi lembar bisa dilahap dengan cepat seraya ita terpesona dengan proses-proses demokrasi yang berlangsung selama ratusan tahun di berbagai belahan dunia.

Why Nations Fail sangat dianjurkan dibaca terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin mendalami ekonomi politik, mahasiswa fisipol dan hukum yang perlu memahami konsep hukum dan siapa saja yang ingin mencoba mengerti sejarah politik dan ekonomi. Bagi masyarakat awam, buku ini pun sangat dianjurkan untuk dibaca, terutama bila kita ingin memahami kenapa negara Eropa bisa sedemikian toleran dan maju secara ekonomi dan sosial, sementara negara-negara Arab bisa sedemikian kaya tapi kelakuannya sangat barbar. Harga buku sebesar IDR 110ribu ini terasa sangat murah dibanding manfaat yang didapat setelah membacanya.

0 komentar: