Jumat, 27 Maret 2015

Perlukah Memperbarui Aplikasi Smartphone Terus Menerus?

image belongs to www.gaptekupdate.com
Bagi teman-teman pemilik smartphone, baik Android maupun iPhone, pasti akrab dengan permintaan update atau memperbarui versi aplikasi. Hampir setiap minggu ada saja aplikasi yang perlu diperbarui. Mulai dari aplikasi vital macam office dan Whatsapp sampai aplikasi yang ga penting-penting amat seperti Kalkulator.
Kalau aplikasi seperti Whatsapp diperbarui, masih bisa dipahami. Sebagai aplikasi komunikasi terpenting ketiga setelah SMS dan telepon, WhatsApp wajib terus menerus menambal bug (kebocoran,  lubang) yang mungkin muncul dan meningkatkan kualitas aplikasinya. Tapi kalau aplikasi seperti Adobe Reader atau Music Player yang kualitas tampilan dan suaranya sangat bergantung kepada berkasnya, buat apa diperbarui tiap bulan. Sudah menghabiskan kuota internet, memakan memori pula.

Sebagian orang dengan gadget canggih dan memori besar memilih untuk mengaktifkan menu autoupdate, sehingga aplikasi di dalamnya bisa memperbarui diri sendiri tanpa perlu minta persetujuan dari sang pemiliki. Sebagian lainnya, termasuk saya, memilih untuk tidak memperbarui aplikasi, kecuali aplikasi komunikasi seperti Gmail atau Whatsapp.

Alasannya: menghemat kuota internet, menghemat memori penyimpanan di smartphone dan tidak ingin jejak digital saya tersebar luas. Setiap kali memakai suatu aplikasi/software, aplikasi tersebut akan mengakses data-data pribadi kita yang tersimpan di akun media sosial, entah Facebook, Google+, atau Twitter. Semakin banyak aplikasi yang terpasang, semakin luas jejak digital kita tersebar, dan semakin rentan kita terhadap serangan phishing dan iklan. 
Kalau versi yang sekarang sudah cukup bagus dan bisa melayani kebutuhan kita, buat apa memperbarui aplikasi? Kalau aplikasi yang sudah diperbarui justru membuat smartphone melambar, kenapa tidak kembali ke versi lama saja? Toh smartphone yang melambat justru menghambat kinerja dan produktivitas kita.

0 komentar: