Rabu, 01 April 2015

Pandora’s Lunchbox by Melanie Warner

Petualangan saya dalam literature review buku-buku yang menginvestigasi industri makanan dan bahan-bahan makanan yang terkandung dalam makanan olahan ringan (processed food) berlanjut. Setelah puas melahap Salt Sugar Fat saya beralih ke Pandora’s Lunchbox dari Melaniew Warnet. Fokus kedua buku ini masih sama, yaitu bahan-bahan kimia yang terkandung dalam processed food  yang dipasarkan di Amerika Serikat (AS).
Berbeda dengan di Indonesia dimana masyarakat lebih suka membeli makanan yang dimasak di warteg, warung tenda kaki lima atau warung padang, dan masih mempertahankan budaya memasak di rumah, rumah tangga di AS lebih suka membeli makanan beku dan memanaskannya di microwave. Hal ini membuat pangsa pasar makanan olahan terbuka lebar. Kalau anak-anak perkotaan di Indonesia makan Cheetos atau Chitato seminggu sekali, maka anak-anak di AS bisa makan kripik junk food tiap hari. Makanan restoran yang mereka santap didominasi oleh KFC, McD, atau Pizza Hut. Keluarga di Indonesia, lebih suka menikmati urap, pecel dana lele bakar dari warung tetangga. KFC di Indonesia menyediakan nasi organik dan ayam segar, KFC AS menyuguhkan daging ayam yang disembelih minggu lalu.

Hal-hal di atas adalah sebagian informasi remeh temeh yang bisa disimpulkan dari Pandora’s Lunchbox. Tentu saja ada hal-hal penting lainnya, semisal bagaimana sereal, kripik kentang dan makanan-makanan modern (yang dibuat di pabrik) berasal, diolah, dan disajikan.
Hal yang membedakan Pandora’s Lunchbox dari Salt Sugar Fat adalah fokus Melanie Werner (penulis) terhadap jenis bahan kimia dalam makanan. Jika Salt Sugar Fat hanya berfokus pada gula, garam dan lemak, Pandora’s Lunchbox berfokus pada bahan-bahan kimia pelengkap yang dijejalkan ke junk food. Maka, istilah-istilah bahan kimia seperti glukosa, fruktosa, azenocarbomide, linoleum atau asam hidroksida bertaburan di halaman-halamannya. Untuk perhatiannya pada detail, Werner perlu mendapat penghargaan. Ia bisa dan bersedia melakukan percobaan dan investigasi sendiri berminggu-minggu. Kelemahannya: ilustrasi dalam Pandora’s Lunchbox, walau menarik dan mendetail, kurang melekat dan mendetail. Membaca buku ini tidak merasakan kelekatan yang mendalam seperti saat membaca Logics of Life atau Freakonomics.
Keunggulan Pandora’s Lunchbox yang sulit disamai buku lain adalah saran Werner tentang keuntungan memasak makanan sendiri dari sudut pandang wanita karir yang berkeluarga. Anak-anak menjadi lebih sehat, ayah dan ibu bebas dari nyeri jantung dan konstipasi, proses belajar jadi lebih mudah, dan keluarga keseluruhan terbebas dari gangguan jiwa akibat overdosis pengawet makanan. Caranya: sama seperti merencanakan keuangan, menu makanan direncanakan untuk seminggu ke depan, seluruh anggota dilibatkan. Tiap anak diberi tugas sesuai kemampuannya. Contohnya: si bungsu memindahkankan sayur ke mangkuk besar dan membawanya, si sulung memasak makanan pembuka, ayah mengiris dan mencacah semua bahan makanan, biu meracik semua bahan makanan jadi makanan siap santap, dan anak tengah membereskan meja dan cuci piring.

Buku setebal 288 halaman ini bisa didapat di Google Play seharga IDR 192 ribu, dan sangat saya rekomendasikan. Mengajak kita untuk makan di rumah dengan makanan tradisional, dibanding makan junk food atau fast food. A real healthy lifestyle.

0 komentar: