Kamis, 30 April 2015

Simple Leadership DNA by Suhartono dan Cyltamia Irawan

Cara paling mudah menyampaikan sebuah pesan adalah melalui role model. Dengan titik mula seorang panutan (role model), seorang penulis bisa menyampaikan pesan kepada pembaca-pembacanya dengan lebih mudah dan sederhana. Itulah yang dilakukan Cyltamia Irawan dengan Simple Leadership DNA. Sadar tidak mungkin bersaing dengan Rhenald Kasali untuk tema “DNA Kepemimpinan” yang sama, ia memilih menggandeng Presiden Direktur FIF, Suhartono, untuk bercerita tentang tema ini. Berangkat dari sosok Suhartono, Cyltamia merangkai cerita tentang kepemimpinan yang sederhana dan praktis.
Buku ini memang tidak dimaksudkan sebagai bacaan serius, hanya sebagai pengingat bahwa seorang pemimpin sebaiknya punya sejumlah karakter baik, seperti: rendah hati, mau mendengar, pekerja tim, kreatif, dan lain-lain. Tentu saja Pak Suhartono, sebagai tokoh sentral dalam buku ini, memiliki semua karakter tersebut.

Membaca buku ini seolah kita berhadapan dengan deskripsi pemimpin sempurna yang disukai dan dirindukan banyak orang. Namun saya yakin bahwa tokoh sentral ini sebenarnya punya sisi gelap, hanya saja penuli tidak mengungkapkannya karena tidak sesuai dengan cerita. Hal ini justru membuat tokoh yang ingin diangkat penulis seperti kurang membumi dan hanya ada di awang-awang saja. Tokoh seperti itu sangat jarang, nyaris tidak ada di muka bumi ini.
Inisiatif Bu Cyltamia mengangkat profil tokoh yang kurang dikenal patut diapresiasi. Ia tidak tergoda menulis profil CEO perusahaan blue chip,cukup Presiden Direktur sebuah anak perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Walau isi buku ini seolah hanya pujian dan pujaan, inisiatifnya patut ditiru.
Walau diterbitkan oleh penerbit terkemuka dan sudah meraih titel best seller, ada kelemahan utama buku ini, yaitu: keterikatan (engagement) yang rendah dengan pembaca, dan sedikitnya nilai/hikmah yang bisa didapat pembaca. Bu Cyltamia sudah melakukan langkah yang tepat dengan mengawali narasinya dari seorang pemimpin bisnis, tapi alinea-alinea ceritanya seolah mendaraskan khotbah kepada pembacanya.
Cerita bawahan-bawahan Pak Suhartono gagal memberi contoh konkrit tentang apa dan bagaimana sesungguhnya kepemimpinan itu. Narasi bawahan-bawahannya sama dengan narasi Bu Cyltamia, hanya memuja-muji atasan. Bahkan saking sesaknya buku ini dengan puja-puji, saya sampai curiga bahwa sosok sang presdir sebenarnya otoriter dan menakutkan.

Walau buku ini sesungguhnya menarik dibaca karena praktis, tapi karena kurangnya contoh konkrit saya hanya bisa memberi 1 dari 5 bintang saja. 

0 komentar: