Kamis, 02 April 2015

Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Mari Berbelanja Di Toko Atau Pasar Lokal

image belongs to hymunk.blogspot.com
Satu hal yang bisa dipelajari dari membesarnya skala perusahaan (economies of scale) adalah adanya sejumlah hal yang perlu dikorbankan atau ditiadakan (trade-off) saat perusahaan beranjak dari usaha kecil/menengah ke perusahaan besar. Bagi perusahaan makanan dan restoran, hal itu adalah nutrisi dan kualitas makanan. Bagi industri ritel, pengorbanan berarti berkurangnya interaksi penjual atau pramuniaga dengan pembeli. Bagi perusahaan manufaktur, pengorbanan berupa otomatisasi rantai produksi yang berarti berkurangnya jumlah karyawan. Trade off tersebut perlu dilakukan atas nama efisiensi, pertumbuhan penjualan, dan pada akhirnya: keuntungan (laba).
image belongs to goodmorningjakarta.wordpress.com
Dalam perjalanan mencari laba, terkadang perusahaan menggilas lawan-lawan yang jauh lebih kecil. Alfmart melindas pedagang kelontong kecil-kecilan. KFC menggilas warung ayam goreng. Starbucks warung kopi. Direksi perusahaan terkadang enggan melakukannya, terkadang mereka lebih suka berkolaborasi atau kerja sama dengan mitra lokal. Namun, mereka tidak dibayar untuk itu. Mereka dibayar untuk meningkatkan laba perusahaan, yang dijustifikasi oleh laba kuartalan atau laba akhir tahun perusahaan, dan kenaikan harga saham.
image belongs to azayabandungan.wordpress.com
Apakah kita, sebagai konsumen, diam saja melihat warung kelontong dan warung kopi dilindas perusahaan besar? Kita bisa diam, atau kita bisa bertindak. Bertindak tidak selalu berarti demo plus bakar ban dan berteriak-teriak kalap.

image belongs to magelang.lokanesia.com
Hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah tetap berbelanja di toko atau warung lokal. Walau WiFi Circle K dan Sevel gratis, cukuplah datang ke situ seminggu atau dua minggu sekali saja. Makanlah di warung atau kaki lima di dekat kediaman. Berbelanjalah di toko kelontong atau swalayan lokal. Jika tinggal di Jawa Barat, berbelanjalah di YogyaMart. Penghuni Surakarta berbelanjalah di Luwes. Warga Sleman berbelanjalah di Mirota atau Putera Kampus. Warga Bantul dan Wonosari, belilah kebutuhan pokok di Pamella. Dengan berbelanja di pedagang lokal, perekonomian mereka akan terangkat, sehingga mereka akan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal, sehingga pengangguran berkurang dan kejahatan menyusut.
Belilah pulsa dari konter/warung pulsa, jangan lewat Indomaret, Alfamart atau ATM. Selisih pembelian pulsa kitalah yang menghidupi dapur mereka. Naiklah taksi atau ojek dari pengusaha lokal, jangan naik BlueBird atau Express, kecuali anda tinggal di daerah yang tingkat kejahatannya tinggi. Naik angkutan umum lebih baik lagi.
Berbelanjalah sayur, buah dan bahan makanan segar lainnya di pasar lokal atau di pedagang sayur yang lewat depan rumah. Kalau butuh camilan, belilah puthu, martabak, pukis, leker, kue cucur, atau rujak dari pedagang kaki lima, jangan beli kripik atau biskuit junk food semacam Lays atau Oreo. Bahkan bakso yang penuh tepung singkong (mocaf) pun masih lebih baik dibanding ratusan bahan kimia yang terkandung dalam Oreo.
Jika di area kota atau desa anda ada area khusus kaki lima, makan atau jajanlah di situ, jangan di warung kaki lima yang mangkal di trotoar. Kalau area khusus kaki lima ramai, otomatis pedagang kaki lima pinggir jalan akan pindah ke area khusus tersebut untuk mengejar konsumen yang lebih banyak, dan karena semakin sedikit orang yang membeli produknya ketika ia berjualan di trotoar (sepi pelanggan). Bagaimanapun, pedagang kaki liama perlu ditertibkan agar tidak sembarangan berjualan di tepi jalan atau membuang sampah ke selokan.
Kalau punya tetangga atau langganan mbak/abang ojek, berdayakan mereka sebagai pengantar makanan di kala malas, sakit, atau sibuk. Selisih 5-10 ribu lebih mahal tak apa, dibandingkan kerepotan dan waktu yang terbuang kalau kita membeli sendiri.
Jika saudara atau kerabat hendak menginap di losmen atau hotel, arahkan ke hotel lokal yang bereputas bagus dan bersih. Dengan demikian mereka akan terkesan dan merekomendasikan hotel tersebut ke kolega-koleganya. Di  Magelang, hotel lokal paling bagus adalah yang termahal, jadi kadang saya merekomendasikan wisma-wisma tentara yang bertebaran di seputar Kodam. Memang tidak dapat sarapan, hanya teh pagi, tapi kebanyakan sepupu senang sekali dengan kebersihan dan pemandangan taruna dan bintara yang berolahraga di pagi hari (plus mendadak religius, shalat subuh dan isya’ di masjid Kodam). Menurut mereka, dengan tarif hanya IDR 175ribu/malam (IDR 250ribu untuk wisma paling bagus), mereka mendapat manfaat yang jauh lebih banyak (cuci mata, kasur empuk, AC, kamar mandi bersih).
Tindakan-tindakan yang saya anjurkan di atas tidak bermaksud menghalangi atau mengurangi pasar perusahaan-perusahaan besar, tapi mengajak konsumen kecil lebih peduli terhadap perekonomian loka. Kalau semua orang makan di KFC dan berbelanja di Carrefour, pengusaha dan warung lokal lama kelamaan akan gulung tikar karena kekurangan pembeli. Interaksi antar manusia juga berkurang dan menyusut, digantikan oleh otomatisasi.
Dengan lebih sering berbelanja di toko dan warung lokal, kita ikut memutar uang dan menghidupkan perekonomian lokal. Jika uang yang berputar di suatu desa atau kota kecil semakin cepat dan semakin banyak, akan semakin banyak juga angkatan kerja yang terserap, entah sebagai karyawan atau wirausaha baru. Dengan demikian pengangguran berkurang, APBD pemerintah lokal meningkat, dan ada lebih banyak uang yang bisa dibelanjakan untuk memperbaiki dan memperbarui infrastruktur atau mengadakan pesta rakyat. Semakin banyak pesaing yang tidak bisa dibunuh atau diabaikan membuat perusahaan besar lebih cepat dan lebih serius berinovasi, yang akhirnya memberi keuntungan juga kepada kita sebagai konsumen dan investor (kalau kita punya saham di perusahaan tertentu).

NB: tulisan ini terinspirasi dari Fast Food Nation karya Eric Schlosser dan akun gerakan @legalmelawan 

0 komentar: