Jumat, 29 Mei 2015

Tabula Rasa by Ratih Kumala

Awalnya saya tertarik meminjam buku ini karena mengira isinya adalah versi novel dari film keluarga/memasak berjudul sama. Namun ternyata beda. Novel ini berkisah tentang pertemuan dan perpisahan.
Dari sisi estetika, sampul Tabula Rasa ini sangat menarik. Bergambar tiga buah boneka matryoshka yang berjejer. Cover buku ini tepat sekali menggambarkan garis besar cerita di dalamnya, yaitu kisah seseorang yang kehilangan kekasih, menemukannya sepuluh tahun kemudian, dan kehilangannya lagi. Ia jatuh cinta dua kali kepada dua orang yang serupa tapi berbeda. Walalu mereka punya paras dan kepribadian yang mirip, tapi mereka punya jiwa dan luka dan berbeda. Namun, ia, Galih, tidak menyesal, karena hidupnya jadi lebih berwarna.

Tabula Rasa adalah novel dengan sudut pandang bervariasi. Terkadang memakai sudut pandang orang pertama, kadang orang ketiga. Alur ceritanya tidak menentu. Di awal terlihat seperti beralur linear, lalu kilas balik, kembali linear lagi, lalu kilas balik lagi. Kesamaannya: cerita mengalir lambat, sepotong demi sepotong adegan, yang menyisakan banyak ruang bagi pembaca untuk berimajinasi. Ratih Kumala secara cerdas merangkai kata demi kata, membuat pembaca bertanya dan merenung.

Buku setebal 185 halaman ini direkomendasikan sebagai bacaan filosofis yang agak berat. Di dalamnya kita diajak mempertanyakan arti hidup dan arti kebahagiaan. Akan tetapi sebagai sebuah prosa, buku ini kurang sesuai dikoleksi. Selain terlalu tipis, buku ini juga kurang inspiratif. Cukup 3 dari 5 bintang untuk Tabula Rasa

0 komentar: