Senin, 09 November 2015

TV Series : Devious Maid

Apa yang terjadi bila seorang profesor universitas terkemuka alih profesi menjadi pembantu rumah tangga (maid)? Ia menjadi maid impian semua keluarga. Efisien, efektif, multifungsi. Mampu membersihkan semua sudut rumah dengan cermat. Tangkas menghalau masalah. Cerdas memecahkan konflik. Plus, bisa menjadi teman yang sempurna bagi keluarga majikannya.
Itulah yang dilakukan Prof. Marisol Suarez. Dosen sastra Inggris di salah satu universitas di California ini memilih banting setir menjadi maid karena anaknya dituduh membunuh. Dengan menyamar sebagai maid, ia berharap bisa menemukan pembunuh sebenarnya.

Di profesi barunya ini, Marisol dengan cepat meraih predikat sebagai maid ideal. Ia sanggup membersihkan dua rumah, sekaligus menjadi teman ideal bagi nyonya-nyonya yang mempekerjakannya. Ia juga diterima dalam komunitas maid perumahan mewah tempat majikannya bermukim.
Walaupun drama pilotnya sangat serius, tentang pembunuhan dan investigasi, tapi sesungguhnya Devious Maid adalah sebuah drama komedi. Ketiga karib Marisol di komuditas maid pun punya cerita-cerita tersendiri. Ada Carmen yang terobsesi menjadi penyanyi Latin. Zoila yang punya majikan gemar kawin dan bermasalah dengan anak gadisnya. Ada pula Rosie yang selingkuh dengan majikannya dan berencana membawa putranya ke Amerika Serikat. Interaksi keempat maid tersebut dengan majikan-majikan dan rekan-rekannya menghasilkan kelucuan-kelucuan tersendiri.
Devious Maid adalah drama yang sanggup menghadirkan komedi dan ketegangan sekaligus dengan transisi yang mulus. Penonton bisa ikut menikmati ketegangan saat Marisol memancing informasi. Tapi bisa ikut tertawa terbahak-bahak saat Carmen berusaha menyelundupkan album rekamannya ke sarapan sang majikan.
Tokoh Marisol Suarez ini mengingatkan penggemar novel Agatha Christie kepada tokoh Lucy Eyelesbarrow.  Keduanya sama-sama cerdas, efisien, dan efektif. Baik Lucy maupun Marisol dapat diandalkan dan cerdas mengambil inisiatif.

Sinetron baru ini sangat sesuai dinikmati sebagai tontonan ringan penghilang stres. Dramanya tidak seberat Game of Thrones. Ketegangannya tidak setinggi Gotham. Komedi-komedinya pun relatif mudah dipahami, cenderung slapstick yang disajikan spontan.

0 komentar: