Jumat, 01 Januari 2016

CSI Cyber

Hollywood tidak henti-hentinya menelurkan serial baru bagi penonton televisi. Setelah deretan CSI, CSI New York, CSI Miami, NCIS, NCIS Los Angeles, Criminal Minds, kemudian muncul CSI Cyber. Hampir sama dengan Criminal Minds dan CSI, CSI Cyber bercerita tentang divisi FBI yang menganalisis, memburu, dan menangkap pelaku kejahatan dunia maya.

Serial yang berdurasi 45 menit dan berjumlah 13 episode pada season pertamanya ini terasa sekali bagai perpaduan CSI New York, Criminal Minds, dan Scorpion. Unsur psikologis pelaku dan korban dianalisis oleh psikiater (yang kebetulan merupakan kepala divisi cyber), kemudian dilakukan analisis barang bukti untuk mencari bukti fisik atau forensi, lalu menggunakan kode-kode pemrograman dilacaklah terduga pelaku kejahatan.
Kelebihan serial ini adalah: penonton dihadapkan pada kasus-kasus nyata yang bisa terjadi pada siapapun yang terkait dengan jaringan internet, sepertu cyberbullying, pencurian kartu kredit, perdagangan manusia, pornografi, hingga pembunuhan terencana yang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Sayangnya, kegiatan menemukan dan melacak terduga pelaku tidak digambarkan secara mendetail dan masuk akal, sehingga terasa seperti ada rantai cerita yang hilang. Serial ini lebih fokus pada kegiatan perburuan dan penangkapan terduga pelaku.
Kelemahan CSI Cyber yang paling kentara adalah nyaris tidak adanya pengembangan karakter dari tokoh-tokohnya akibat terlalu berfokus pada sisi teknis perburuan penjahat, seolah-olah semua anggota tim divisi cyber mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bekerja dan tidak punya keluarga. Dialog-dialognya cenderung pendek, bahkan kebanyakan terdengar seperti salah satu artikel di jurnal Psychology Review, atau mengambil tulisan di InfoKomputer dan Mashable.

Secara keseluruhan, film ini kurang menarik ditonton, apalagi diikuti tiap minggu. Lebih baik menonton serial lain yang lebih menarik seperti Quantico, Scorpion, Empire, atau Blindspot.

0 komentar: