Jumat, 01 Januari 2016

Sastra Indonesia Pasca Reformasi

Sejak Soeharto diturunkan dari takhtanya, kreativitas dan ide berkembang cepat. Dunia kesenian, sastra, dan budaya bergabung dengan dunia wirausaha. Penggabungan ini dipraktekkan secara luas di masyarakat. Di satu sisi, penggabungan itu menguntungkan kreativitas, yang bisa menyebar luas menembus budaya dan kelas. Semakin banyak orang kreatif yang menggabungkan berbagai unsur seni dan budaya. Tapi di sisi lain tingkat kedalaman dan keseriusan nilai dalam budaya semakin dangkal. Dan itulah yang terjadi pada dunia sastra kita.
Kalau dulu saat kita masih dijajah Belanda dan ditindas Soeharto, sastra kita dianggap bermutu karena berisi penderitaan, perjuangan, dan keinginan bertahan hidup, maka di era kebebasan ini karya-karya galau khas remaja justru membanjiri pasar, dan disukai konsumen. Sepintas memang dangkal, tapi penjualan karya sastra jenis itu yang bisa digolongkan karya chicklit atau teenlit terus meningkat. Indikasinya, semakin banyak judul buku yang diterbitkan pada genre itu, semakin sering buku-buku di rak novel laris berganti tiap minggu, dan semakin banyak penulis baru yang muncul.

Sejumlah penikmat sastra kerap beranggapan bahwa karya-karya teenlit terlalu dangkal dan tidak berbobot. Saya pun demikian. Tapi kalau dipikir-pikir, separuh lebih populasi Indonesia adalah anak muda. Hampir dua pertiganya berusia di bawah 20 tahun. Mereka adalah golongan anak muda yang sedang haus-hausnya mencari pengalaman dan pertemanan. Salah satu sumber bacaan favorit, ya dari teenlit itu. Apalagi pengarang-pengarangnya sebagian seumuran mereka juga. Wajar lah kalau novel atau karya teenlit laku keras. Walau tidak bisa digolongkan karya sastra (sepertiga teenlit cuma berupa buku harian), tapi karya-karya seperti itulah yang paling dekat dengan keseharian mereka.
Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar saya sering mendapat cuplikan adegan dari sebuah karya sastra tersohor, seperti Salah Asuhan, Siti Nurbaya, atau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saya baru bisa mengapresiasi karya-karya tersebut saat menginjak bangku SMU. Akui saja, kalimat-kalimat sastra serius di atas terlalu bersayap, kisah yang diangkat sulit dipahami anak usia 10 tahun.
Bandingkan dengan anak sekolah abad 21. Mau bacaan santai, ada kumpulan cerpen Bobo. Bacaan agak serius, ada teenlit. Bacaan sangat serius? Ada buku-buku fiksi karya Dewi Lestari yang alurnya mudah dipahami. Belum ribuan karya tulis, novel, cerpen, dan antologi yang dikarang sesama anak-anak yang juga tersedia bagi mereka.
Kalau ukuran dalam dangkalnya sebuah karya sastra adalah rak best seller di toko-toko buku, maka pendapat kritikus-kritikus sastra itu mungkin ada benarnya. Tapi di luar itu ada juga karya-karya sastra seru yang digarap dengan riset dan pertapaan mendalam dari penulisnya, seperti karya Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, atau Leila Chudori. Karya-karya cinta dan kehidupan remaja seperti novel-novel Wina Effendi masih mendominasi, tapi muncul pula karya-karya serius yang cukup mendapat peminat walau belum sampai masuk rak best seller.
Di era reformasi, semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan mengemukakan pendapat. Di era ini, jenis penderitaan dan kesulitan hidup yang dialami berbeda dari era orde baru. Di Orde Baru penderitaan berarti ditindas, diculik, dianiaya sampai cacat, atau ditembak jagal misterius. Pasca Orde Baru makna penderitaan bergeser menjadi masalah bertahan hidup, memenangkan persaingan, menghadapi peer pressure, mencari makan untuk kegiatan sehari-hari, hingga bersiasat menghadapi tekanan preman dan politikus.

Tidak ada yang salah dengan kurangnya kedalaman di karya sastra jaman reformasi. Hanya permasalahan yang dihadapi berbeda. Begitu pula karya sastra. Beda jaman beda sudut pandang, beda pula permasalahan yang diangkat. Tidak ada yang salah dengan hal itu. 

0 komentar: