Kamis, 19 Mei 2011

Prima UK

    Saya tertarik dengan majalah ini karena kesan yang ditampilkan di covernya adalah wanita yang sederhana dan apa adanya bisa tetap tampil menarik. Setelah membacanya sepintas saya mendapat kesan kalau majalah ini adalah tipe bacaan yang sederhana, menampilkan saran-saran tentang kehidupan sehari-hari yang membuatnya menjadi bacaan yang berguna dan layak dibaca tiap bulan. Prima mungkin tidak menampilkan tren busana dan tata rias terkini seperti halnya Vogue atau ELLE atau menu masakan hasil kreatifitas koki ternama seperti Saveur, tapi ia menampilkan berbagai saran tentang busana, kecantikan, kesehatan, tata ruang, kesehatan dan persoalan hidup yang dikemas dalam satu majalah. 

    Yang saya sukai dari Prima terutama adalah iklannya yang relatif sedikit. Majalah luar negeri seperti Marie Claire, Harper's Bazaar atau ELLE hampir 50%nya berisi iklan busana dan produk kecantikan, membuat mereka lebih terasa sebagai katalog dibandingkan bacaan senggang. Perbandingan iklan dan artikel di Prima adalah 1:4 (25% iklan dari keseluruhan halaman) yang memungkinkan kita menikmati berbagai artikel dan saran tanpa terlalu terganggu oleh iklan yang bertebaran.
    Prima memberikan porsi yang lebih besar kepada pembaca untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan majalah, dan kegiatan itu dipublikasikan dalam majalah. Bahkan ada halaman review produk kecantikan dari pembaca majalah ini. Hal ini membuat semua jenis wanita, tua muda kurus gendut asia afrika kaukasid, bisa berpartisipasi dan menjadi model dalam majalah. Saya jadi belajar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan belajar bahwa justru kekurangan seseorang adalah kekuatannya dari wawancara Prima kepada pembacanya.
    Halaman Fashion Prima menampilkan busana yang rasional dan murah, bisa dipakai di Indonesia dan model busananya klasik dan timeless. Untuk membuat pembaca betah membaca halaman demi halaman, layout Prima dibuat sefamiliar mungkin.
    Kelebihan lain yang perlu saya sebutkan antara lain adanya : resep makanan yang ditampilkan menarik dan mudah dibuat, ide bulanan yang sederhana dan patut dicoba, berbagai saran kecantikan yang bisa dicoba di kala senggang, cerita autobiografi wanita-wanita "biasa" yang berhasil menaklukkan kerasnya kehidupan dan ketakutan dalam diri mereka sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik, berbagai saran sederhana untuk mendekorasi rumah dengan berbagai barang kerajinan tangan (dan dilampirkan cara membuat kerajinan tangan ini), artikel psikologi tentang memahami diri sendiri dan cara berhubungan dengan orang lain, artikel kesehatan yang sederhana dan bisa diterapkan langsung di kehidupan sehari-hari.
    Yang tidak saya sukai adalah biaya kirim Prima lebih mahal daripada harga majalahnya sendiri. Harga majalahnya hanya sekitar GBP 2.98, sedangkan biaya kirimnya lebih dari GBP15,belum biaya untuk menyogok petugas bea cukai dan kantor pos (Indonesia gitu loh). Sedangkan kalau mengunduh di internet tidak tersedia edisi tiap bulan. Prima kalah populer dengan Elle, Marie Claire, Cosmopolitan atau majalah pria dewasa sehingga edisi bulanannya tidak selalu tersedia. 
    Hal lain yang tidak saya sukai adalaha busana yang disarankan Prima untuk musim dingin jelas tidak bisa dipakai di Indonesia yang beriklim tropis, artikel jalan-jalan terlalu sedikit dan kurang mendetail dan adanya berbagai kupon belanja yang tidak bisa digunakan di Indonesia.
    Rekomendasi saya tentang Prima adalah baca/beli. Majalah ini menyajikan berbagai saran yang berguna dalam kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam bahasa sederhana, mudah dimengerti dan enak dibaca. Perbandingan Prima dengan majalah lokal adalah Sekar, karena sama-sama menampilkan saran sederhana dalam bahasa yang mudah dimengerti. Atau Good Housekeeping sebagai kompetitornya karena mereka sama-sama menyuguhkan saran tentang kehidupan sehari-hari. Bedanya adalah Good Houskeeping terlalu banyak iklan dan artikelnya kurang bervariasi.

0 komentar: