Minggu, 19 Februari 2012

Generasi Muda Gagap Kerja

     Kalau ditanya mau jadi apa sesudah lulus kuliah kebanyakan dari kita pasti bingung. Kita menjawab jadi apa saja atau pilih menjadi PNS saja. Ya. Kebanyakan lulusan sekolah menengah atas atau universitas masih gagap dengan dunia kerja. Mereka kebanyakan tidak tahu apa yang harus dilakukan sesudah lulus sekolah. Ketika lulus mereka memilih pekerjaan apa saja yang tersedia.

        Kalau mau jujur, kebingungan seperti ini sudah dirasakan sejak masih duduk di bangku sekolah. Saking banyaknya mata pelajaran yang harus diikuti dan dihafalkan tanpa tujuan jelas membuat siswa alpa memikirkan masa depannya sendiri. Tidak tahu apa yang harus dilakukan sesudah lulus dari bangku sekolah.  Abai terhadap masa depan.
        Beberapa siswa yang berorangtuakan PNS dan guru memilih mengikuti jejak orang tuanya karena hanya itulah pekerjaan yang menurut mereka aman dan menghasilkan. Tidak terbayang pekerjaan lain seperti musikus, organisator acara (event planner), pembuat meubel, pedagang, perantara jasa, ilmuwan atau konsultan.
        Sebagian memilih pekerjaan apa saja yang tersedia di depan mata, tidak peduli halal atau haram. Bagi mereka yang berpendidikan rendah tapi menuntut hidup enak, pekerjaan sebagai pencuri, tukang pukul atau preman bersorban menjadi pilihan utama.
        Ada yang sudah merencanakan masa depannya dengan baik sesuai kata hati dan keahliannya. Tapi apa daya syarat-syarat utama seperti keterampilan tangan, imajinasi atau nilai akademis tidak mencukupi. Jadilah mereka memilih bidang lain seperti perdagangan sebagai tumpuan hidupnya. Panggilan hidup yang sebenarnya mereka jadikan hobi atau sampingan.
        Hal yang perlu digaris bawahi dalam kasus terakhir adalah orang yang sudah merencanakan masa depannya tidak tahu kualifikasi apa saja yang diperlukan untuk menggapai cita-citanya. Begitu pula dengan sebagian besar siswa sekolah. Mereka tahu apa keinginan mereka tapi kesulitan mewujudkannya karena tidak memenuhi kualifikasi.
        Contohnya untuk menjadi guru diwajibkan lulus dari S1 Fakultas Keguruan (atau Fakultas lain asal memiliki sertifikat mengajar), menulis jurnal ilmiah sebagai bagian dari skripsi layaknya mahasiswa eksakta normal dan lulus ujian CPNS.
        Dokter praktek harus memiliki izin praktek dari Ikatan Dokter Indonesia, pernah magang di rumah sakit kabupaten dan puskesmas kecamatan dan kelurahan, pernah co-assisten selama 2 tahun dan tidak pernah tertangkap mengkonsumsi alkohol dan narkoba. Bahkan untuk menjadi tukang bangunan pun dianjurkan memiliki sertifikat keahlian rancang bangun dari perusahaan-perusahaan semen terkemuka.
        Kegagapan siswa terhadap dunia kerja diperburuk dengan minimnya informasi tentang kualifikasi, lisensi, dan sertifikasi tentang pekerjaan yang mereka inginkan. Guru, pembimbing, maupun orang tua sama-sama tidak mengerti perkembangan jaman dan hanya memikirkan gengsi yang didapat bila si anak berhasil masuk universitas atau fakultas bergengsi.
        Akibatnya siswa ketika lulus cenderung mengambil pekerjaan apa saja yang tersedia, bukannya mengikuti kata hati atau keahliannya. Pekerjaan yang paling populer dan tidak menuntut kualifikasi khusus tentu saja PNS. Lalu bagian administrasi dan penjualan. Mereka menjadi pekerja tanpa jiwa dan tidak produktif, cenderung memberatkan perusahaan tapi tidak bisa dipecat karena perusahaan terikat Undang-Undang Tenaga Kerja. Kalau sudah begini kedua belah pihak sama-sama rugi. Perusahaan kehilangan waktu dan biaya. Pekerja kehilangan kredibilitas dan integritas. Idealnya perusahaan mendapat karyawan yang berkualifikasi sesuai dan berdedikasi. Pekerja mendapat pekerjaan yang ia cintai.
        Meminjam istilah salah satu career coach : both parties deserved each other. The one who loves what she/he does deserves the job more than anybody who doesn’t.
        Saran saya kepada siswa sekolah, mahasiswa atau siapa pun yang sedang merencanakan masa depannya : cari tahulah sebanyak mungkin informasi mengenai pekerjaan impianmu. Apa saja kualifikasi, lisensi, dan sertifikasi yang harus dimiliki agar dapat meraih pekerjaan impian. Seperti apa jenjang kariernya, sampai sejauh mana dirimu sanggup menapaki tangga karir, pengorbanan apa saja yang harus dilakukan dan yang paling penting, yakinlah dengan impian dan cita-citamu.

2 komentar: