Jumat, 03 Februari 2012

Kehilangan Identitas Bangsa

    Membaca tulisan France Unlikely Import:Weight Loss Centre membuat saya terhentak. Bagaimana suatu negara yang terkenal dengan wanita-wanita yang langsing bisa mengalami obesitas dan terpaksa mengimpor metode diet dari negara lain. Mengingatkan saya bahwa sesuatu yang merupakan identitas suatu bangsa atau negara bisa hilang. Negara tersebut terpaksa mendatangkan identitasnya dari negara lain (impor).

    Indonesia adalah negara yang (dulu) terkenal dengan keramahannya, keragaman budaya, dan pemandangan yang indah. Tapi keramahan bangsa ini sekarang nyaris lenyap. Kerusuhan merebak dimana-mana. Orang bisa saja saling bunuh hanya karena tersinggung atau masalah kecil.
    Justru orang yang masih mempertahankan keramahannya menjadi sasaran penipuan. Sangat sering ditemui pengemis, atau peminta sumbangan masjid dan panti asuhan,atau orang yang berkedok musafir tersesat yang meminta uang.
    Melihat menipisnya kadar keramahan penduduk Indonesia, tidak heran kalau suatu saat kita terpaksa mendatangkan instruktur tata krama untuk mengajari pentingnya etika dan keramahan.
    Hal lain yang di masa depan akan hilang juga adalah pemandangan alam yang indah. Wisata adalah sumber pendapatan yang nyaris tidak pernah kering. Sayangnya sebagian obyek wisata ini terancam tumpukan sampah yang menggunung dan penambangan pasir dan batu. Karakter sebagian besar rakyat Indonesia yang menginginkan uang dengan cepat tanpa mempedulikan akibat jangka panjangnya, yaitu mempercepat kerusakan obyek-obyek wisata.
     Mungkin kalau diadakan sosialisasi mengenai pentingnya kebersihan,keaslian obyek-obyek wisata, dan keuntungannya bila mereka terpelihara kepada penduduk sekitar dan pengunjung kondisi situs-situs wisata itu kembali bersih. Kalau situs wisata ramai dikunjungi, penduduk lokal juga menikmati kemajuan ekonomi.
     Begitu pun dengan keragaman budaya. Beberapa organisasi Islam memberangus berbagai tradisi lokal dengan kekerasan. Masyarakat jadi takut menyelenggarakan kegiatan seni dan budaya. Pelan tapi pasti, berbagai kegiatan seni dan budaya dilupakan.
     Negeri jiran yang berupaya menghidupkan beberapa kegiatan seni dan budaya Indonesia malah dituding menjiplak. Tidakkah kita sadar bahwa kita sendirilah yang mematikan budaya lokal? Lalu kenapa harus marah ketika bangsa lain memeliharanya? Toh mereka masih satu rumpun dengan kita. Nenek moyang kita dan mereka sama. China juga tidak pernah marah ketika kuliner kita banyak meniru mereka (bakso, kwetiaw, lumpia,dll).

1 komentar: