Senin, 06 Februari 2012

Steve Jobs by Walter Isaacson


    Buku biografi ini dinobatkan sebagai buku terlaris 2012 oleh berbagai situs penjualan buku. Buku ini bercerita tentang perjalanan hidup salah satu pendiri Apple Computers mulai dari lahir hingga meninggal pada 6 Oktober 2011. Dalam buku ini dipaparkan pandangan hidupnya, prinsip,watak, sifat emosional, pandangan visioner dan kekejamannya. 
    Buku ini disusun karena ia percaya bahwa ia akan segera mati ketika divonis menderita kanker pankreas. Ia ingin agar anak-anaknya mengenal dirinya sebagai manusia biasa karena tahu bahwa ia nyaris tidak pernah hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Ia ingin agar mereka lebih mengenal ayahnya lebih obyektif melalui buku yang ditulis orang yang kompeten dan dipercayainya.
    Di awal buku dikisahkan masa kecil, remaja dan awal-awal kehidupan Jobs. Ia memilih untuk berkuliah di kampus yang uang kuliahnya sangat mahal dan tidak belajar rajin. Akhirnya ia memilih untuk drop-out ketika ia dan Steve Wozniak mendirikan Apple Computers. Jobs berpandangan jauh ke depan, perfeksionis, dan ingin membuat komputer yang bersahabat bagi orang awam. Wozniak yang berjiwa peretas (hacker)memiliki kemampuan teknis seperti pemrograman dan rancang mesin yang sedemikian canggih. Ialah yang merancang dan merakit komputer pertama Apple. Diceritakan juga interaksi mereka dengan orang-orang di sekitar mereka, orang-orang yang membantu mereka mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan.
    Satu bab dalam buku ini didedikasikan untuk salah satu sifat Jobs yang menonjol, yaitu distorsi realitas lapangan. Distorsi realitas lapangan adalah paham dimana segala sesuatu dapat saja terjadi sesuai pandangan subyek tanpa memperhitungkan kenyataan di lapangan dan tanpa memperhitungkan hambatan apa saja yang mungkin muncul. Kemampuan ini ditambah dengan semangat berapi-api dan kebiasaan memandang mata orang tajam-tajam bisa membuat orang di sekitarnya seolah tersedor ke dalam dunia dalam pikiran Jobs. Dalam dunianya itu, realitasnya adalah yang paling benar. Pandangan orang lain salah dan tidak sesuai dengan realitasnya.
    Sifat emosional dan tidak memikirkan perasaan orang lain adalah aspek menarik dari seorang Steve Jobs. Sifat ini membuatnya berhasil sebagai seorang CEO Apple, Pixar dan Next. Tapi ia gagal sebagai seorang makhluk sosial. Kedua sifat tersebut membuatnya mampu mendorong teman-teman dan anak buahnya menciptakan produk-produk yang hebat. Tetapi orang yang mentalnya tidak kuat hampir pasti segera keluar dari perusahaan yang dipimpinnya.
    Ia juga orang yang tanpa sadar sering mengambil ide orang lain dan mengakuinya sebagai idenya sendiri. Bagi teman-teman dan pegawai-pegawainya yang sudah terbiasa sifatnya ini sering mereka gunakan agar ide mereka bisa diaplikasikan dalam produk atau kebijakan perusahaan.
    Visi Steve Jobs yang luar biasa mampu membuatnya membesarkan Apple dan Pixar. Tanpa ilham dan pandangan jauh ke depan kita tidak mungkin menikmati Mac series, iPhone, iPod series, film kartun 3Dimensi Toy Story dan yang paling fenomenal adalah iPad.
    Kemunculan komputer Apple I dan Apple II yang sederhana dan mudah digunakan merevolusi dunia komputer pribadi (personal computer). Naiknya Pixar yang memiliki teknologi 3dimensi nyaris nyata menyegarkan dunia animasi Amerika. Kemunculan iPod yang sederhana dan mudah digunakan mengakhiri dominasi Walkman dan perangkat pemutar musik lain. iPad sekali lagi merevolusi dunia komputer setelah Apple II. Masyarakat sekarang lebih suka memakai table untuk bekerja, bermain dan belajar.
    Dari buku ini kita dapat gambaran lengkap dari seorang revolusioner dunia komputer di samping Bill Gates. Layaknya manusia biasa ia memiliki sifat baik dan buruk, walau keburukannya lebih sering terungkap dibanding kebaikannya. Ia memilih jalan yang sesuai dengan apa yang diyakininya dalam merancang produk-produk Apple. Jobs menekankan pendekatan yang terpusat dan terintegrasi untuk produknya. Bill Gates memilih pendekatan terbuka dan terpisat untuk software-software Microsoft. Berdua mereka menguasai dunia komputer abad 20.
    Pada akhir hidupnya ia memilih untuk berdamai dengan teman-teman dan musuh-musuhnya yang pernah ia lukai di masa lalu. Ia kembali bertukar pikiran dengan Gates. Ia menerima kunjungan dari Larry Page, CEO Google yang pada abad ke 21 menjadi pesaing utama Apple. Ia menyerahkan urusan operasional Apple kepada Tim Cook. Proses produksi Pixar diserahkan kepada David Lesseter. Sebelum meninggal ia sempat mendatangi peluncuran iPhone 4 dan iPad. Ia mengundurkan diri dari Apple dan Pixar, menikmati hari-hari terakhirnya di tengah-tengah keluarga dan teman-temannya.

3 komentar: