Minggu, 01 September 2013

An Old Fashioned Girl by Louisa May Alcott

image by Gutenberg.org
Satu lagi karya pengarang dari Little Women yang mengesankan dan membumi. Walau Old Fashioned Girl tidak seterkenal Little Women, ceritanya lebih sesuai bagi generasi Milennial saat ini. Bahwa kerja keras dan pikiran yang sehat lebih berharga dari uang atau kilau kemewahan (yang kadang didapat dari berhutang atau korupsi).

Tokoh utama Old Fashioned Girl, Polly Milton, adalah seorang gadis desa yang bekerja di kota. Di awal cerita dikisahkan kunjungan Polly ke rumah keluarga Shaw untuk menikmati liburan. Dari situ ia mendapat pengalaman dan kesan tersendiri mengenai orang-orang kaya di kota, dan bagaimana pandangan mereka terhadapnya. Bagian selanjutnya mengisahkan masa dewasa Polly, dimana ia harus menghidupi dirinya, berkontribusi bagi masyarakat dan berusaha diterima dalam pergaulan dengan teman-teman sebayanya. Old Fashioned Girl ditutup dengan keputusan Polly untuk menikah dan hidup bersama Thomas Shaw, teman masa kecilnya.
Banyak sekali cerita moral yang bisa dipetik dari Old Fashioned Girl. Pertama adalah bagaimana hal-hal kecil seperti persahabatan, teman bicara, lagu kuno atau rumah yang hangat (tidak harus besar) bisa membawa kebahagiaan tersendiri. Kedua, pandanglah dunia dari segi positif, maka hidupmu akan tercerahkan. Hal-hal buruk seperti percobaan bunuh diri dan gosip bisa dinetralkan dengan sedikit perhatian dan kerja sama antar manusia. Hidup ini penuh masalah. Yang kita perlukan terkadang hanyalah sedikit renungan dan obrolan untuk mengatasinya.
Ketiga, cobalah untuk bersikap jujur dengan cara yang elegan dan tidak menyakiti hati orang. Sulit memang. Terutama karena orang terkadang lebih suka dengan manisnya kebohongan dan tidak siap menghadapi pahitnya kenyataan.
Last but not least, tersenyumlah. Polly selalu berusaha untuk tersenyum ramah karena berpikir hanya itulah yang bisa diberikannya terhadap orang lain. Senyumnya menular dan membuat hari orang-orang yang berpapasan dengannya lebih cerah. Tersenyumlah. Toh senyum tidak membutuhkan biaya dan menyehatkan kita. Siapa tahu senyum kita bisa membantu orang lain. Tidak ada salahnya tersenyum, bukan?
Tampaknya novel ini sengaja ditulis Alcott sebagai panduan bagaimana seorang gadis mengarungi kerasnya kehidupan dan persepsi masyarakat. Polly mungkin miskin secara harta, tapi ia punya keluarga yang hangat dan sikap positive thinking. Dua berkah ini justru membuatnya dihormati teman-teman (anak orang) kaya dan mampu membuatnya masuk ke kelompok wanita karir.
Saat ini kita bisa menemukan Polly-Polly lain di berbagai perkumpulan dan organisasi. Orang-orang yang senang berbagi membantu sesama di samping tetap memikirkan diri dan keluarganya.
Sudahkah anda membaca Old Fashioned Girl? Bisakah anda menemukan pesan moral lain yang bertebaran di dalamnya?

0 komentar: