Sabtu, 07 September 2013

The Terracotta Army by John Man

Musim semi 1974, sebagian provinsi Shaanxi dilanda kekeringan. Gunung Li berhenti mengalirkan air. Enam orang Yang bersaudara berinisiatif menggali celah di antara kaki gunung Li. Mereka menggali dan menggali sampai membentur lapisan tanah yang mengeluarkan bunga api saat dicangkul. Itulah awal penemuan Tentara Terakota (tanah liat) di makam Kaisar Pertama Shih Huang Ti (buku ini memanggilnya Qin Shih Huang Di, tapi saya pilih nama populernya agar mudah dipahami).
Tentara Terakota merupakan satu batalyon (±8000 patung) tentara tanah liat yang dibuat untuk menemani Kaisar pemersatu bangsa China yang pertama, Shih Huang Ti. Mereka merepresentasikan jumlah dan tugas kesatuan tentara yang akan menemani sang Kaisar di alam baka. Masyarakat China menganggap kehidupan setelah mati hampir sama dengan kehidupan di Bumi, maka seorang Kaisar memerlukan tentara, jenderal, pelayan, dan istri. Tanah liat (terakota) dipilih karena ia mudah ditemukan, mudah dibuat, awet (cukup dibakar dan dipernis), dan bisa dibuat ribuan dalam waktu kurang dari setahun dengan puluhan tenaga kerja saja.

Dalam buku yang menceritakan asal usul tentara Terakota, John Man mengisahkan sejarah China saat Shih Huang Ti berusaha menyatukan China dan saat sejarawan besar China, Sima Qian, menuliskan kitab Shi Ji, atau Catatan Sejarah, yang lebih dikenal dengan Records of The Grand Historian. Kitab sejarah ini mencakup sejarah China secara keseluruhan dalam 30 Bab, mulai dari awal sampai tahun 100 SM.
Politik kerajaan China, seperti diceritakan Sima Qian, selalu penuh dengan perebutan kekuasaan. Dalam setiap tahun dan abad pasti terjadi perang dan pemberontakan. Tampuk kepemimpinan diwariskan dalam dinasti, yang kadang justru menghasilkan pemimpin yang kejam walau efektif memerintah (bayangkan Hitler atau Stalin). Bawahan dan penasehat pun dipilih berdasar prestasi (meritokrasi), tapi lebih sering terjadi orang yang tidak kompeten menjadi menteri atau penasehat. Tidak heran Sun Tzu bisa menelurkan Art of War yang praktis dan filosofis. Ia sudah banyak melihat prakteknya di dinasti-dinasti kerajaan China.
Memasuki dunia Kekaisaran Qin 200 SM (saat Shih Huang Ti berkuasa) atau Dinasti Han 100 SM (ketika Sima Qian hidup) pembaca diajak memasuki dunia kuno yang tampak asing tapi nyata. Kita seolah-olah bisa melihat pembunuhan-pembunuhan dalam istana, proses pembuatan tentara dan lubang makam, pemberontakan yang mendera, dan kekejaman Penguasa.
Saat membaca proses pembuatan Makam, pembaca bisa belajar bahwa ketika Eropa dan sebagian besar dunia masih berburu dan meramu, bangsa China sudah punya sistem pemerintahan, dapat merencanakan dan membangun sebuah makam yang akan memuat ±8000 tentara lengkap beserta senjata asli dan patung kereta kuda dengan sistem yang mirip ban berjalan di pabrik otomotif. Bagian massal dibuat lebih dulu bersamaan dengan penggalian pondasi lokasi makam.
Hingga Bagian ke-2 (atau Bab 11) pembaca disuguhi cerita tentang masa lalu China. Kalau belum menonton versi dokumenter atau film tentang kerajaan China kita mungkin akan bingung membayangkannya. Ceritanya tampak begitu nyata di pelupuk mata. Tapi membosankan kalau tidak punya referensi. Sebelum membaca Terracotta Army disarankan menonton Curse of Golden Flower (politik istana) atau Red Cliff (perang dan pemberontakan).
Di bagian ke-3 atau Bab ke-12 pembaca bisa menikmati paparan arti penting Tentara Terakota bagi bangsa China abad ke-21 dan cerita-cerita yang menyertai. Sebagian cerita berhubungan dengan kekaguman dunia Barat terhadap mereka. Sampai-sampai Jacques Chirac memanggilnya Keajaiban Dunia ke-8.
Nilai yang saya petik (selain deskripsi sejarah yang menawan) dari Tentara Terakota adalah : persiapan dan perencanaan mencakup 60% dari keberhasilan. Sisanya ketetapan hati dan keberanian mengeksekusi rencana.
Sejarah bangsa China adalah yang termaju dan paling awal terekspos teknologi. Ingat, merekalah penemu mesiu, kertas, sutra, lem, dan lain-lain. Sebagian memanfaatkannya, sebagian tertarik, dan lebih banyak lagi yang tidak peduli. Sejarah suatu bangsa pasti mengalami pasang surut seperti halnya gelombang laut. Tapi itu tidak menghalangi manusia berusaha dan belajar.


0 komentar: