Kamis, 05 September 2013

Timah Berdarah

23 Agustus 2012, mucul tulisan mengejutkan di Bloomberg Businessweek. Kolumnis Cam Simpson mengabarkan terjadinya bencana tanah longsor di lubang tambang timah Pulau Bangka. Di bulan Agustus saja, sudah 6 orang tewas tertimbun longsor. 5 orang meninggal di bulan Juli. Mereka yang tewas adalah penambang rakyat, yang menggali tanpa perlindungi alat-alat keselamatan kerja seperti helm, sarung tangan karet atau sepatu bot.
Pulau Bangka dan tetangganya, Pulau Belitung, adalah pemasok hampir 100% timah Foxconn, perusahaan manufaktur raksasa yang merakit produk-produk Apple, melalui Shenmao Technology dan Chernan Metal Industrial. Kedua perusahaan tersebut juga memasok Sony, Panasonic, Samsung dan LG.

Timah merupakan komponen krusial dalam berbagai jenis elektronik dan otomotif. Timah dalam bentuk solder timah menaut berbagai komponen menjadi satu.

Di tingkat lokal, PT Timah (TINS) dan KobaTin mendapat hampir semua (tepatnya 98%) pasir biji timah dari tambang rakyat. Sisanya diperoleh dari laut dengan menyedot pasir dasar laut memakai kapal ber-vacuum raksasa.

Semua perusahaan yang terkait dengan timah rakyat (Foxconn, Shenmao, Chernan, Apple, Sony, Panasonic, PT Timah dan KobaTin) menolak berkomentar atas tingginya kematian dan rendahnya keselamatan kerja di tambang rakyat Bangka Belitung. PT Timah biasanya mengklaim hal itu bukan tanggung jawab mereka, karena yang tewas adalah penambang ilegal. Tidak ada hubungannya dengan mereka.

Dilihat dari kacamata publikasi dan citra perusahaan, kasus tewasnya pekerja bisa membawa preseden buruk bagi perusahaan. Konsumen yang sadar bahwa gadget atau mobil mereka mengandung darah penambang bisa menolak membeli atau memakai. Ada baiknya PT Timah, Shenmao, KobaTin dan Chernan selaku produsen bijih timah dan solder timah mengakui bahwa mayoritas produk mereka didapat dari tambang rakyat. Menyangkal hanya akan menambah buruk image perusahaan, mengurangi volume penjualan dan menjatuhkan harga saham.

Secara etis, lebih baik kalau KobaTin cs menyediakan perangkat keselamatan kerja bagi pekerja tambang rakyat. Memasukkan mereka ke dalam struktur buruh perusahaan memang sulit karena mereka tidak memenuhi kualifikasi. Tapi PT Timah dkk bisa ikut menyediakan sepatu bot, sarung tangan karet, dan pelatihan menambang yang aman agar keselamatan mereka lebih terjamin. Atau melaksanakan politik Etis ala Multatuli dengan mensponsori anak-anak penggali pasir timah yang terafiliasi dengan mereka ke sekolah hingga jenjang SLTP atau melarang pekerja di bawah usia 18 tahun.

Dengan menyediakan perangkat dan pelatihan keselamatan kerja serta sekolah gratis, PT Timah dan kawan-kawan dapat mengurangi jumlah orang yang tewas di lubang galian. Solder dan biji timah mereka terhindar dari kategori “timah berdarah” ala timah Kongo. Penjualan meningkat, kepercayaan konsumen pulih dan lebih sedikit publisitas buruk. 

0 komentar: