Kamis, 21 November 2013

BI Rate Naik ke 7.5%


image courtesy of ekonomi.kompasiana.com

Untuk kesekian kalinya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25basis poin ke 7.5%. Gubernur BI, Agus Martowardoyo mengatakan bahwa tujuan utama dinaikkannya BI Rate adalah untuk mengatasi defisit neraca berjalan (Current Account).

Buat yang belum dapat moneter di sekolah, kenaikan BI rate akan menaikkan bunga obligasi luar neger Indonesia (sovereign bond) di mata internasional. Akibatnya, dana asing akan masuk ke indonesia, pengelola dana mancanegara (terutama sovereign wealth fund) akan membeli surat berharga yang diterbitkan BI, pemerintah atau institusi keuangan lain yang berdenominasi dolar. Dolar masuk, berarti nilai tukar rupiah terhadap dolar akan anik, cadangan devisa pun ikut naik sehingga defisit neraca berjalan menyempit. Syukur-syukur bisa surplus atau seimbang seperti dulu lagi
CAD(-) BI Rate naik Valas Masuk Rupiah Menguat CAD (+)
Seberapa efektifkah kenaikan BI Rate ini? Dalam jangka pendek, langkah ini sangat efektif. Apalagi bila dipadukan dengan curency swap. Semakin banyak dana asing masuk, semakin kuat rupiah dan pasar modal, semakin sempit defisit neraca transaksi berjalan.
Untuk jangka panjang, sebaiknya Bank Indonesia mencari cara lain untuk memperkuat rupiah. BI Rate yang tinggi akan memacu inflasi. Sebaiknya setelah Current Account seimbang, BI kembali menurunkan suku bunga acuan ke angka 6%an, sehingga bunga kredit pun menyusut dan perekonomian bisa dipacu lagi.

0 komentar: