Senin, 25 November 2013

Pilih Novel Atau Film Adaptasi?


image courtesy of j-cat.deviantart.com

Sejak dari jaman dahulu kala industri film berusaha menggali ide dari dunia sastra. Salah satu bentuknya adalah film adaptasi. Tak terhitung banyaknya fiksi yang diadaptasi jadi film layar lebar, serial televisi atau drama teater.

Dari dalam negeri ada karya fenomenal Laskar Pelangi, Badai Pasti Berlalu, Karmila dan Pintu Terlarang hingga yang terbaru Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang sudah diangkat ke layar lebar dan sinetron. Kebanyakan novel best-seller di Indonesia diadaptasi menjadi film layar perak.
Hollywood lebih doyan lagi mengadaptasi sastra. Yang paling fenomenal tentulah The Godfather dan Lord of The Rings yang berhasil meraup sejumlah penghargaan Oscar dan pendapatan kotor ratusan juta dolar. Tidak cuma karya sastra, komik pun diadaptasi ke layar lebar. Batman dan Spiderman adalah contoh suksesnya.
Industri teater dan televisi di Inggris tidak kalah dalam memproduksi serial tv atau drama teater dari novel. Karya-karya Shakespeare, Jane Austen dan Agatha Christie (terutama cerita dengan tokoh utama Hercule Poirot) adalah yang paling sering diadaptasi ke film layar lebar dan teater. Industri televisinya sudah berulang kali memproduksi sinetron yang diadaptasi dari Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle atau Miss Jane Marple karya Agatha Christie.
image courtesy of yabookqueen.blogspot.com
Apa keuntungan mengadaptasi novel atau karya sastra laris? Pastinya jaminan penonton yang jadi target market dan dialog atau jalan cerita yang sudah jadi. Novel-novel mega hits seperti Laskar Pelangi atau Harry Potter yang punya jutaan penggemar adalah sasaran empuk bagi produser film manapun. Kalau sepersepuluh saja penggemar edisi cetaknya bersedia menonton di bioskop atau membeli DVD versi filmnya, keuntungan ratusan juta dolar sudah membayang.
Tapi sebagus-bagusnya film adaptasi pasti ada kelemahannya. Yang paling kentara ialah ketidakmampuan film memuat semua cerita dari novel ke dalam film berdurasi maksimal 3 jam. Kalaupun sutradara atau penulis skenarion nekat memuat semua adegan ke film hasilnya akan nanggung dan kurang berkarakter.
Bagi penonton, ada keuntungan tersendiri menonton film adaptasi dari novel atau karya sastra. Diantaranya lebih santai dinikmati dan menghemat lebih banyak waktu. Apalagi film yang diadaptasi dari puisi. Lebih baik menikmati dalam bentuk film daripada membaca puisinya. Cuma dibutuhkan waktu maksimal 3 jam untuk menonton film layar lebar atau serial televisi, dan maksimal 6 jam untuk menonton teater. Kerugiannya: imajinasi kurang terasah. Penonton cuma menerima cerita dalam film sesuai tafsiran sutradara dan penulis skenario.
Membaca karya sastra atau novel bisa memperkaya kosakata, mengasah otak dan menggerakkan imajinasi. Kita bisa membandingkan kisah satu dengan yang lain, mencari benang merahnya dan menghubungkan cerita-cerita tersebut, bahkan memikirkan ending alternatif bagi karya sastra yang sedang dinikmati. Namun membaca novel membutuhkan komitmen kuat dan waktu membaca yang lama, bisa berbulan-bulan untuk satu buku.

0 komentar: