Jumat, 01 November 2013

Kegagalan Pertanian Organik : Hit by Reality

Sebuah tayangan TV Jerman DWTV bulan lalu menarik perhatian saya. Liputan tersebut bercerita tentang seorang petani organik yang kembali ke pertanian konvensional. Biaya menjadi alasan utamanya. Pertanian organik menuntut petani mensertifikasi produk-produk pertaniannya. Dan lembaga sertifikasinya tidak cuma satu, tapi buanyakkk. Sertifikat tersebut harus diperbarui tiap tahun. Syarat-syarat pembaruannya pun bejibun dan mahal. Di antaranya petani harus bisa membuktikan tidak memakai pupuk kimia, perstisida kimia dan harus menerapkan metode pascapanen tanpa bahan kimia.

Menilik aset-aset yang dimilikinya, petani organik itu termasuk petani yang makmur. Ia punya ranch sapi dan lahan pertanian puluhan hektar. Kalau memakai logika orang Indonesia, hasil pertanian dan peternakannya pasti menguntungkan walau memakai sistem organik sekalipun. Apalagi Pemerintah Jerman mensubsidi pertanian organik.
image courtesy of thewifeofadairyman.blogspot.com
Namun coba kita lihat lebih dekat. Pertanian organik melarang kehadiran nyaris semua produk kimia dalam pupuk, pestisida dan pascapanen. Apalah artinya tanaman yang kekurangan unsur hara? Bahan kimia dalam pupuk organik masih molekul kompleks yang sulit diserap akar. Pupuk organik tersebut memang menyehatkan tanah, tapi produktivitas tanaman menurun karena tidak ada makanan yang diserap akar.
Tingkat kematian hama akibat pestisida organik juga teramat rendah. Pestisida organik tidak bisa memberantas serangga bercangkang dan sebagian besar bakteri. Sebelum hama dan penyakit tumpas, tanaman keburu meranggas dan mati. Petani seolah bekerja sia-sia saat tanaman mati.
Penerapan teknologi pascapanen pun tidak lepas dari bahan kimia. Petani buah-buahan khususnya akrab dengan penggunaan lilin dari gula atau PEG untuk mengawetkan buah-buahan sehingga buah bisa bertahan berbulan-bulan. Tanpa PEG dan hanya mengandalkan kertas koran atau pengaturan suhu gudang (kecuali punya gudang elektrik) hanya akan membuat hasil pertanian membusuk.
Biaya kerugian yang harus ditanggung petani karena menolak memakai bahan kimia dalam kegiatan budidaya telah membuat mereka menderita kerugian karena tanaman-tanaman mati.
Petani dalam liputan DWTV tersebut mempunyai sejumlah ternak yang pakannya tergantung pada hasil pertanian. Kalau hasil pertanian habis dijual dan tidak ada yang tersisa karena jumlahnya yang sangat sedikit, apa yang harus dimakan ternak-ternaknya? Kebanyakan hasil pertanian organik cuma seperempat dari pertanian konvensional.
Setelah menderita kerugian selama 3 tahun akibat pertanian organik, akhirnya ia menyerah dan kembali ke pertanian konvensional. Keluarga dan ternak-ternaknya butuh makan dan mereka tidak bisa terus-terusan menanggung kerugian.
Pertanian organik ternyata tidak seindah liputan Trubus. Bahkan saat disubsidi sekalipun. Produksinya sedikit, biayanya besar dan tidak bisa mencukupi kebutuhan atau permintaan pasar. Bayangkan bila 10% populasi petani yang beralih ke pertanian organik kembali lagi ke pertanian konvensional, berapa kali lipat tambahan produk pertanian yang bisa diperoleh?
Lalu kenapa banyak universitas atau lembaga menjual pertanian organik? Menurut saya hal itu berkaitan dengan insentif moral. Mereka merasa telah melakukan hal baik dengan melestarikan lingkungan dan mengajak orang lain untuk melestarikan lingkungan pula. Walaupun mereka tidak ikut menanggung konsekuensinya. Pelaksana di lapangan, yaitu petani, lah yang harus menanggung konsekuensi dan kerugian karena mengaplikasikan pertanian organik. 

0 komentar: