Selasa, 14 Oktober 2014

Heroes Of Olympus : Blood Of Olympus

Hari yang ditunggu-tunggu tiba! 8 Oktober kemarin, akhirnya Blood of Olympus terbit. Buku terakhir serial Heroes of Olympus ini diharapkan semua pembaca akan menjadi penutup yang eksplosif, klimaks yang sesuai dengan plot building yang sudah dibangun sejak Demigod Files 5 tahun yang lalu, dengan pertempuran yang lebih dahsyat dibanding The Last Olympians. Sebagian pembaca menunggu akhir yang tragis sekaligus gembira dari Blood of Olympus, dengan jawaban akan pertanyaan terakhir: siapakah yang akan tewas?

Kenyataannya, Blood of Olympus terasa seperti antiklimaks. Sejumlah plot yang dibangun sejak Lost Hero hingg House of Hades justru terasa hilang disini. Sebagian disebabkan peran Percy yang dikurangi hingga nyaris hilang, sehingga pembaca kehilangan komentar-komentarnya yang sarkas dan nakal. Sebagian disebabkan singkatnya pertempuran antara Giants dengan ketujuh demigod. Kurang dari 5 bab. Saya pun dibuat terhenyak saat pertempuran dengan Giants berakhir. Loh, kok cuma segini?
Pengarang Rick Riordan sepertinya ingin memberi porsi lebih kepada 5 narator disini: Jason, Leo, Piper, Nico dan Reyna. Peran penutur cerita Annabeth, Frank, Hazel dan Percy dihilangkan. Jika melihat buku yang terbit persis sebelum Blood of Olympus, yaitu Percy Jackson’s Greek Gods, terasa wajar jika peran Percy dikurangi. Ia sudah menuturkan cerita untuk satu buku sendiri. Namun saya tetap saja heran kenapa peran Hazel atau Frank dikurangi. Secara karakter, keduanya lebih kuat dan teruji dibanding Jason atau Piper.
Kalaupun ada bagian yang layak disebut klimaks, itu adalah pertempuran trio Leo, Piper, dan Jason versus Gaea. Tokoh Leo sepertinya dimaksudkan sebagai pengganti Percy sebagai idola baru penggemar serial dewa-dewi Yunani ini. Walau digambarkan tidak semenarik Percy dalam hal fisik, Leo punya selera humor bagus, tidak sarkastis, bukan pengambil risiko kelas berat seperti Percy, dan bisa merancang strategi pertempuran satu lawan satu yang nyeleneh. Pertempuran melawan Gaea membuktikan kecanggihannya merancang mesin perang.
Klimaks dari serial Heroes of Olympus sendiri justru ada di House of Hades. Petualangan yang lengkap, humor yang variatif dari Leo dan Percy, tragedi pahit yang menimpa Bob dan Damasen, serta jalan cerita yang sulit ditebak justru membuat House of Hades terasa sebagai puncak cerita serial Heroes of Olympus.
Tragedi yang ditunggu-tunggu tidak terjadi, yang ada justru happy ending. Padahal tragedi bisa menarik perhatian pembaca dan kritikus buku. Ketiadaan tragedi, pertempuran yang singkat dan hambar, serta proses build-up  yang terlalu lama membuat Blood of Olympus terasa membosankan dibanding House of Hades atau Mark of Athena. Malah adegan pertempuran Jason versus Percy di Mark of Athena atau Percy versus sepasukan hantu di Son of Neptune lebih menarik. Dibandingkan The Last Olympian, Blood of Olympus jauh lebih datar dan membosankan. Riordan seperti ingin menyajikan akhir bahagia bagi semua pembaca.
Cukup 3.5 dari 5 bintang. Enak dibaca, kalau belum membaca prekuel-prekuelnya. Buku terakhir yang bukan klimaks. Alur lambat, ketegangan kurang. Tidak harus membeli, cukup dibaca di perpustakaan saja.


0 komentar: