Kamis, 02 Oktober 2014

Koran USA vs Koran Inggris


Sebagai salah satu pelaku pasar modal, koran bisnis adalah salah satu bacaan wajib tiap hari. Dari dalam negeri, Kontan dan Investor Daily lah pilihan saya. Untuk pandangan mengenai ekonomi Eropa, pilihannya antara lain Der Spiegel, Guardian Business dan Financial Times. Bacaan wajib dari negeri Paman Sam mencakup Businessweek dan New York Times. Tentu tidak semua beritanya yang dibaca. Seringnya, saya hanya membaca kolom analisis dan hanya melirik sekilas bagian berita, karena koran-koran lokal sudah memuat berita-berita tersebut. Bahkan koran lokal sekelas Suara Merdeka atau Jawa Pos terkadang memuat berita ekonomi internasional.

Lain halnya dengan kolom analisis atau editorial. Kedalam dan kualitas tulisan ditentukan oleh luasnya wawasan, posisi sudut pandang dan pemahaman penulis terhadap suatu materi. Itulah sebabnya kualitas editorial Kontan berbeda dengan Tribun (walaupun mereka satu grup), Financial Times berbeda dengan Jakarta Globe, dan Guardian berbeda dengan New York Times.
Pandangan penulis terhadap suatu masalah lah yang membuat kolom analisis Businessweek berbeda dengan Financial Times walau kualitas keduanya bisa dibilang setara. Businessweek lebih berorientasi pasar bebas ala Adam Smith, sementara FT menyukai pendekatan ala Keynes. Namun Businessweek dan New York Times lebih enak dibaca dibanding Guardian atau Financial Times. Kedua koran Britania Raya ini sering memakai kata-kata yang jarang dijumpai dengan tambahan perumpamaan-perumpamaan yang hanya dimengerti orang Inggris. Selesai membaca satu tulisan analisis pakar di Financial Times atau Guardian, belum tentu kita bisa langsung memahami dan sanggup menceritakan lagi isinya. Sedangkan bila kita membaca New York Times atau Businessweek, kita bisa langsung memahami pendapat dan sudut pandang penulis terhadap suatu isu, dan menceritakan kembali isinya.
Untuk keleluasaan dan kecepatan diakses, jujur saja, Businessweek dan New York Times lebih cepat dan mudah diakses. Bahkan saat diakses dengan mobile browser sekalipun, kedua situs bisnis Paman Sam ini lebih cepat diakses tanpa error. Mungkin karena lokasi server mereka lebih dekat ke Indonesia dibanding server Guardian atau Financial Times. Padahal kecepatan mengakses situs sangat menentukan apakah seseorang akan berlama-lama membaca berita di situs tersebut atau memilih beralih ke situs lain.
Tingkat keakraban pembaca juga berpengaruh. Koran-koran bisnis lokal dari Grup Kompas seperti Kontan dan JakartaPost lebih banyak menyadur berita dari Businessweek dan New York Times, maka preferensi pembaca lebih condong ke kedua situs tersebut.

Dari sejumlah faktor di atas, maka jangan heran kalau pengunjung unik Indonesia yang memilih Businessweek dan New York Times lebih banyak dibanding Guardian atau Financial Times. Karena kedua koran asal Amerika Serikat tersebut lebh mudah diakses dan tulisannya lebih familiar dibanding dua koran lain asal Britania Raya. 

0 komentar: