Jumat, 31 Oktober 2014

Kenapa Detective Conan Semakin Membosankan?

Saat ini saya hanya mengikuti satu cerita manga saja, Claymore, itu pun sudah tamat. Saya sudah tidak lagi membaca, meminjam atau membeli Detective Conan, One Piece, Naruto, Alice Academy, Skip Beat dan sejumlah mangan lain. Semakin dewasa, saya semakin sadar kalau waktu dan perhatian saya semakin berharga. Waktu yang biasanya saya pakai untuk membaca komik kini dipakau untuk berolahnraga. Perhatian semakin lama semakin terfokus pada karir, pendidikan dan mencari jodoh (nasib single L ).

Pernah suatu ketika saya main ke toko buku. Di sana biasanya ada satu eksemplar buku atau komik yang sudah dibuka segelnya. Iseng ambil komik Detective Conan. Dan, saya tidak terkejut, sama sekali tidak ada perubahan dalam ceritanya. Conan Edogawa/Shinichi Kudo masih memburu organisasi yang sama, belum ada kejelasan mengenaik kejahatan macam apa yang dilakukan organisasi tersebut, dan tokoh-tokoh dalam cerita tidak bertambah umur walau setahun-pun.
Yang paling mencolok, pelaku-pelaku tindak kriminal masih langsung mengaku saat dikonfrontasi dengan bukti-bukti. Mereka tidak berkilah atau membantah saat bukti yang absurd diungkapkan. Proses penyidikan dan pengadilan masih ditiadakan, seolah ada asumsi bahwa tiap pelaku kejahatan pasti dihukum seberat mungkin. Aoyama Gosho mungkin lupa: pengacara yang tangguh bisa memutar balikkan fakta, mengurangi masa hukuman terdakwa pelaku kejahatan, bahkan membebaskan terdakwa.

Komik Detective Conan terasa tak masuk akan dan jauh dari realita karena memang demikian kenyataannya. Hidup ini tidak selalu hitam putih seperti dalam cerita. Tidak semua tindak kejahatan diadili. Apakah hanya meneliti obat bisa dianggap kejahatan? Belum tentu. 

0 komentar: