Jumat, 31 Oktober 2014

Little Lady Tetralogy

image belongs to http://badfatcat.wordpress.com/2012/09/27/flawed-design/
Tidak hanya novel fiksi petualangan macam Supernova, Lord of The Rings atau Hunger Games yang bisa dibuat serial. Fiksi chicklit pun bisa dibuat serial. Misalnya tetralogi Little Lady karya Hester Browne ini. Little Lady adalah contoh karya chicklit yang tetap segar dan dipenuhi lelucon non slapstick. Agak sedikit mirip dengan chicklit karay Meg Cabot, tapi dengan tokoh utama yang lebih kacau dan messed-up.

Perkenalkan Melissa Romney-Jones, wanita sintal di usia menjelang 30an yang baru saja di-PHK. Ia tinggal di apartemen yang sama dengan sahabat prianya, Nelson. Ia punya keluarga politisi yang kaya tapi manipulatif. Pasca PHK, ia memutuskan membuka agensi pengasuh pria dengan nama Little Lady. Melissa menyaru sebagai wanita pirang seksi bernama Honey (NB: Melissa brunette). Tidak sulit melakukannya karena ia punya jaringan pertemanan luas dan bawaan pengasuh galak tapi seksi. Masalah muncul saat pria-pria yang diasuhnya jatuh cinta pada Honey dan ia pun terpikat pada salah satunya.
Tetralogi Little Lady ini terdiri atas: The Little Lady Agency, Little Lady Big Apple, The Little Lady Agency and The Prince dan What The Lady Wants. Dari keempat buku ini pembaca bisa menyaksikan perkembangan kepribadian Melissa dari seorang wanita naif menjadi wanita dewasa yang sadar akan potensinya.
Alur cerita bergerak lambat, tapi pembaca tidak akan merasakannya karena dialog-dialog cepat dan kejadian-kejadian lucu yang dialami karakter-karakternya. Karakter kebanyakan digambarkan secara tersirat. Browne tidak ingin merusak imajinasi pembaca dengan penggambaran yang terlalu mendetail, sehingga ia membuat sejumlah perumpamaan dan dialog untuk melukiskan tokoh-tokoh di Little Lady series.
Ending cerita ini sebetulnya sudah tertebak sejak buku pertama, ketika Nelson mengurus Melissa seperti ibu mengurus anaknya. Namun apalah menariknya suatu cerita jika tidak ada lika liku labirin. Melissa justru bertunangan dengan pria lain, tapi tetap tinggal bersama sahabatnya itu. Justru intrik dan dialog antara Melissa, Nelson, Jonathan (tunangan Melissa), keluarga Melissa dan orang-orang di sekitar mereka yang membuat pembaca betah mnikmati serial Little Lady.
image belongs to http://badfatcat.wordpress.com/2012/09/27/flawed-design/ 
Dari Little Lady kita belajar untuk mengenal diri sendiri, sadar apa kelebihan dan kekurangan kita secara seimbang, tidak hanya fokus pada salah satunya saja. Kita juga belajar bahwa tidak ada yang salah dengan membuat kesalahan dalam hidup. Semua orang bisa berbuat salah. Tidak ada manusia yang sempurna. Selama kita sadar, mengevaluasi kesalahan kita, dan bersedia memperbaiki, kesalahan bisa diterima sebagai pelajaran hidup. Jika kita tidak mencoba dan tidak membuat kesalahan, kita tidak bisa belajar.
Little Lady layak diberi 4 dari 5 bintang. Serial ini layak dibeli dan dibaca berulang kali, terutama bagi para wanita yang sedang mengalami krisis percaya diri dan butuh hiburan segar yang bisa dihubungkan dengan kehidupan kita sendiri.


0 komentar: