Sabtu, 24 Januari 2015

Paper Towns By John Green

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis di twitter bahwa karya-karya John Green layak disebut binge read. Ringan, agak menarik, tapi kering dari nilai hiburan, moral dan ilmu (knowledge). Novel-novelnya mencoba untuk terlihat filosofis, mengadaptasi nilai-nilai filsafat ke bahasa remaja yang mudah dipahami, namun terasa agak ganjil ketika dibaca kutu buku yang sudah pernah menikmati Paulo Coelho, Umberto Eco, atau Haruki Murakami. Karya-karya John Green memang ditujukan bagi remaja, dengan tema besarnya filsafat bagi pemula, atau dummy’s guide for philosophy.

Dari kacamata fiksi, novel-novel tulisan Green tidak berbeda satu sama lain. Paper Towns, An Abundance of Katherines dan Looking for Alaska punya premis yang sama: remaja pria biasa yang jatuh cinta kepada gadis populer dan sempurna, berusaha sekuat tenaga mengejar si gadis, tapi justru menemukan hal lain yang lebih penting dalam pengejarannya, entah sahabat-sahabat terbaik, gadis lain, jati diri, atau nilai keluarga. Kesamaan lainnya: si remaja pria ini punya sahabat-sahabat yang sangat loyal, dan si gadis sempurna merasa ada yang hilang dari dalam dirinya.
Seperti halnya The Fault In Our Stars , tokoh utama Paper Towns juga punya obsesi aneh terhadap sebuah karya sastra, yaitu puisi-puisi karya Walt Whitman. Bedanya, kalau di The Fault In Our Stars tokoh utamanya sampai pergi ke Belanda untuk menemui pengarang favoritnya, disini puisi Walt Whitman dipakai sebagai petunjuk hilangnya seseorang.
Ada 3 bagian utama dalam Paper Townds, yaitu Senar, Rerumputan,dan Wadah, dimana sulit dicerna kalau ketiga kata tersebut merepresentasikan isi dari suatu bab. Bagian paling enak dibaca dari Paper Towns adalah bagian terakhir, yaitu Wadah. Di bagian ini tokoh utama, Quentin Jacobsen, dan ketiga temannya melakukakan perjalanan ratusan kilometer demi menemukan gadis pujaannya, Margo Roth Spiegelman, yang sudah menghilang 2 minggu.
Kalau diminta memilih apakah keunggulan dari Paper Towns, maka saya kira itu adalah dialog-dialog antara Quentin dan Margo, dimana mereka bertukar pikiran dan pendapat tentang kehidupan sosial dan jati diri mereka. Apakah kepribadian mereka saat ini adalah keinginan mereka sebenarnya, atau gambaran harapan orang tua mereka dan masyarakat?
Tidak banyak yang bisa diharapkan dari Paper Towns, selain bahwa buku ini ringan, bisa dibaca sambil melamun, atau menambah kosa kata sederhana yang tidak pernah kita pikirkan untuk digunakan dalam karya prosa. Paper Towns bisa didapatkan di berbagai toko buku dengan harga kurang dari IDR 60ribu. Sejujurnya, novel ini kurang layak dikoleksi. Untungnya, kita bisa meminjamnya dari perpustakaan terdekat. Buku setebal 351 halaman ini bisa selesai dibaca dalam 2 jam saja.


0 komentar: