Jumat, 09 Januari 2015

The Negotiator by Frederick Forsyth

Gegara isu cadangan minyak dunia disorot oleh The Economist dan Blomberg Businessweek, saya jadi tertarik akan fiksi dan fakta yang melingkupi minyak mentah. Setelah Moral Case for Fossil Fuels dari Alex Epstein, giliran The Negotiator dari Frederick Forsyth yang dilahap.
Daya tarik The Negotiator terletak pada tema penculikan yang ditawarkan, jalinan plot rapat dan alur cerita yang cepat. Hanya dengan membaca sepintas 30 halaman pertama saja kita bisa tahu bahwa The Negotiator jauh lebih menarik dibanding Twilight atau Inferno. Forsyth dengan rapi mampu menjalin tindakan tiap karakter, alasan yang mendasarinya, menguak perkembangan karakternya, serta menyajikan kejutan-kejutan di sejumlah bagian.

Dalam dunia The Negotiatornya Forsyth yang sangat maskulin, tiap pria adalah tokoh utama dalam kehidupannya. Ia pusat dunia, istri dan keluarga ada untuk mendukungnya. Ia taktis, punya pertimbangan multi-dimensi, dan cenderung berkelompok. Pria di The Negotiator lebih lembut dibanding Jack Bauer, punya masa lalu dan kehidupan menyedihkan, tapi tetap bisa bangkit dan melanjutkan hidup. Tapi mereka berbeda dengan pria di kisah John Grisham yang rajin mencari celah hukum atau pria dalam cerita Michael Crichton yang penuh rasa ingin tahu. Memang hanya ada satu tokoh utama dalam cerita The Negotiator, tapi ia bukanlah manusia super yang bisa mengerjakan semuanya sendirian. Ia tetap butuh bantuan tokoh-tokoh lain.
Di samping plot cerita yang dianyam pelan dan munculnya sejumlah kejutan, pembaca juga disuguhkan dengan pengetahuan aturan-aturan tentang bagaimana melakukan negosiasi. Satu: win-win solution. Dua: kedua belah pihak saling percaya. Tiga: berkhianat itu fatal. Cara bernegosiasi mungkin hanya dua per tiga plot cerita The Negotiator, tapi bagian-bagian tersebut layak dibaca berulang kali sebagai bekal negosiasi di dunia nyata.

The Negotiator diterbitkan penerbit Serambi seharga Rp 99ribu dengan tebal 679 halaman. Novel ini layak sekali dikoleksi dan dibaca berulang kali, baik sebagai referensi praktek negosiasi di dunia nyata atau referensi bagaimana menganyam cerita dengan rapi tapi tetap penuh kejutan. 

0 komentar: