Jumat, 06 Februari 2015

Intisari


sumber: mediaofindonesia.blogspot.com
     Sejak tahun 2000, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, keluarga kami sudah berlangganan Intisari. Saat itu Intisari adalah satu-satunya majalah yang memberi pengetahuan sains dengan cakupan luas, mulai dari flora, fauna, bahasa, perilaku hingga teknologi. Nyaris tidak ada pesaingnya. Belum ada National Geographic, Reader’s Digest, atau internet. Kalaupun ada, belum bisa masuk ke kota kecil di Jawa. Jika ingin memperoleh informasi tentang sains yang agak sophisticated, Intisari lah satu-satunya sumber.
        Tapi itu semu berubah saat saya menginjak SMA. Di tahun itu, Google melantai di bursa efek Nasdaq. Untuk pertama kalinya pula, ada warung internet di kota tetangga,di  Kantor Pos Magelang. Enam bulan kemudian, warnet pertama dibuka di Temanggung. Orang semakin mudah memperoleh informasi. Di sisi lain, majalah-majalah sejenis Intisari yang saya sebutkan di atas, mulai masuk Temanggung dan menjadi pesaing serius. Pelan-pelan, pembaca setia mulai meninggalkan Intisari, beralih ke internet dan National Geographic. Walau demikian, kami masih tetap berlangganan intisari. Alasannya: pertama untuk memberi penghasilan tambahan kepada loper koran langganan, kedua karena isinya masih relevan dan sulit ditemui di media lain.
        Keluarga kami akhirnya benar-benar meninggalkan Intisari di tahun 2012. Kami merasa isinya sudah kurang menarik dibandingkan majalah lain. Informasi dan berita-berita di dalamnya bisa diperoleh dengan mudah berkat kehadiran smartphone. Harganya pun semakin mahal, padahal beberapa kafe dan perpustakaan daerah menyediakan Intisari gratis (lebih baik pinjam dibandingkan beli). Dan yang paling penting, Intisari kehilangan greget yang membuat pembaca bergegas membelinya saat edisi terbaru terbit. Dibanding majalah seperti Tempo atau Femina, Intisari mulai kehilangan relevansinya.
     Sekarang saat saya membaca-baca lagi Intisari edisi tahun 2000 dan 2001, saya temukan bahwa informasi sains yang disediakan saat itu sudah kuno untuk ukuran tahun 2015. Tapi saya juga menemukan bahwa cerita kriminal, info flora dan fauna masihlah memberi pencerahan. Di Intisari edisi lama, cerita kriminal adalah salah satu faktor kenapa kami setia membeli majalah ini. Di Intisari edisi dekade 2010an, cerita kriminal sudah semakin tersebar. Cerita yang disajikan Intisari pun terasa kuno karena sudah pernah dibaca di media lain atau ditayangkan televisi.
     Intisari edisi awal 2000an terasa lebih bernyawa, lebih personal, entah karena kertas buram yang digunakan atau kesederhanaan kata-kata yang dipakai. Intisari edisi dekade 2010an terasa lebih dingin, jumlah halamannya lebih sedikit, dan panjang satu artikel pun lebih pendek. Kalau dulu satu tulisan bisa sepanjang seribuan kata atau 8 halaman, di Intisari sekarang paling panjang cuma 500an kata atau 5 halaman.
sumber: mediaofindonesia.blogspot.com
     Intisari saat ini mungkin sudah kalah bersaing, tersaingi oleh kebaruan informasi dari jurnal-jurnal berbahsa Inggris. Sejumlah perpustakaan sekarang lebih suka mengimpor langsung majalah sains dari negeri asalnya. Penulis dan editor Intisari sudah berupaya sekuat tenaga memberi informasi dan tulisan yang menarik untuk menjaring pembaca baru. Pelan-pelan, hegemoni Intisari mulai tergeser oleh smartphone. Mungkin sudah saatnya Intisari tutup, atau menggeser fokus pasarnya. Alangkah baiknya jika Intisari berhenti mencampur sains dan pseudosains dalam satu majalah sekaligus. Intisari bisa mencoba resep Reader’s Digest yang menawarkan banyak kuis dan TTS, atau menjadi majalah sains murni ala NewScience, atau mencoba menjadi majalah sains untuk pemula seperti yang pernah dilakukannya dulu. Atau ia bisa memilih untuk menjadi majalah full-digital, yang hanya didistribusikan lewat tablet, smartphone dan desktop. Bila Intisari memilih untuk berhenti terbit, maka ia bisa menggabungkan diri dengan majalah lain di Kelompok Kompas Gramedia, menjadi sebagian kecil kolom atau tulisan di Kompas atau InStyle. 

0 komentar: