Jumat, 06 Februari 2015

The Silkworm by Robert Galbraith

Penulis mega-bestseller JK Rowling kembali dengan buku keduanya dari genre detective, The Silkworm, yang ditulisnya dengan nama alias Robert Galbraith. Sama seperti buku sebelumnya, The Cuckoo’s Calling, Silkworm masih berkisah tentang detektif partikelir Cormoran Strike dan sekretaris/sidekick Robin Ellacott, pasangan Sherlock dan Watson versi Rowling. Kali ini, mereka berusaha memecahkan misteri pembunuhan novelis kurang laris Owen Quine.

Delapan bulan setelah berhasil memecahkan pembunuhan atas model terkenal Lula Landry, Strike menghadapi kasus hilangnya penulis sekaligus suami dari Leonora Quine. Strike sesungguhnya hanya ingin menghindari dari kejenuhan menangani kasus perselisihan rumah tangga dan penggelapan uang perusahaan dengan mencoba mencari orang hilang, tapi malah menemukan mayat Owen Quine yang hangus disiram zat asam. Instingnya pun tergerak untuk menyelidiki dan mengkonfrontasi pembunuhnya dengan dibantu Robin dan adik tirinya, Alexander Rokeby.
Jangan membandingkan serial Cormoran Strike dengan Harry Potter. Keduanya berbeda jauh, mulai dari segi alur, plot, penuturan, jumlah karakter, hingga target pembaca. Silkworm alurnya linear maju, nyaris tidak ada subplot, penuturan ceritanya didominasi dialog (hampir 60% berisi dialog) dan jumlah karakter utama dan pembantu kurang dari sepuluh.
Kalau membaca serial Cormoran Strike, saya jadi teringat serial NYPD Red atau Alex Cross dari James Patterson, atau Theodore Boone dari John Grisham. Ketiga serial tersebut sepertinya mengikuti pakem penulisan serial detektif dicetuskan Agatha Christie. Lebih banyak dialog dan interaksi dengan terduga tersangka, adanya sparing partner yang membantu tokoh utama mempersempit daftar tersangka, alur cerita linear maju nyaris tanpa subplot, dan kecenderungan untuk mengkonfrontasi tersangka terakhir di akhir cerita.Jika Harry Potter series ditujukan bagi pembaca segala umur, maka serial Cormoran Strike ditujukan bagi pembaca dewasa, minimal berusia di atas 18 tahun.
Keistimewaan Silkworm dibanding novel detektif lain antara lain: adanya kutipan dari sejumlah novelis atau penulis karya sastra di setiap awal bab (misal kutipan dari John Fletcher dari novel The Bloody Brother di bab 17, kutipan dari novel The Little Frech karya Franci Beaumont dan Philip Massinger di bab 10, dan kutipan dari Timons of Athens karya William Shakespeare di bab 43) sehingga dengan membaca Silkworm saja kita mendapat banyak sekali referensi kesusastraan Modern, kertasnya agak kekuningan sehingga ringan tidak silau di mata dan baunya enak, ada kejutan-kejutan kecil dalam jalan cerita yang familiar dengan kehidupan orang biasa sehari-hari (seperti perasaan Strike saat tahu tim sepakbola kesayangannya kalah atau kegeraman Robin saat lalu lintas terhambat akibat kecelakaan dan perbaikan jalan), dan deskripsi sangat mendetail tentang sudut-sudut kota London. Alangkah bagusnya jika kita bisa membaca Silkworm sambil menikmati panorama London dari Google Earth atau Google Maps.
Kalaupun ada kelemahannya, maka hal itu adalah ketidakmampuasn Galbraith/Rowling menyusun cerita cinta yang standar tokoh utamanya sebagai bumbu wajin novel detektif dewasa. Mantan kekasih Strike, Charlotte Campbell (digambarkan berparas dan fisik seperti Hillary Rhoda), hanya berupa bayang-bayang masa lalu yang kadang menelusup ke benak Strike. Gadis lain yang mencoba menjalin hubungan dengannya, Nina Lascelles, pun digambarkan kurang bisa menjalin hubungan yang awet dengan Strike.

Secara keseluruhan, Silkworm adalah novel detektif yang sangat bagus dan menyenangkan dibaca. Bahasanya sederhana,mudah dimengerti bagi pembaca segala umur dan enak dibaca. Novel setebal 532 halaman ini bisa diperoleh dengan harga kurang dari 100ribu, mengingat toko-toko buku gemar menggelar diskon di awal tahun

0 komentar: