Rabu, 11 Februari 2015

Rakyat Dapat Apa by Syafril Teha Noer

Apa yang kita tahu dari Provinsi Kalimantan Timur? Beribukota di Samarinda? Kota terbesarnya Balikpapan (terbesar juga sepulau Kalimantan)? Kabupaten terkayanya Kutai Kertanegara? Kaya akan minyak dan batubara? Hutannya gundul? Jalannya rusak? Wilayahnya sangat luas tapi penduduknya sedikit? Kalau saya, hanya keenam hal itu yang saya tahu.

Minggu lalu saya tertarik dengan salah satu buku terbitan Kaltim Post berjudul “Rakyat Dapat Apa?” Buku yang sejatinya sudah ada sejak bulan Desember 2013 ini berisi kumpulan opini kolumnis senior harian Kaltim Post, Syaril Teha Noer. Dari format isinya, buku ini mirip serial Naked Traveler dari Trinity atau Kicau Kacau nya Indra Herlambang. Walau judulnya berbau politis, namun buku ini lebih banyak menyoroti sisi sosial dan budaya masyarakat dan birokrat di Kalimantan Timur.
Dari buku ini pembaca jadi sadar bahwa perilaku masyarakat Kaltim sama saja dengan masyarakat di Jawa atau Sumatra. Mereka cenderung memanfaatkan momen pemilu legislatif untuk memeras politisi, perilaku birokrasi yang cenderung memeras pengusaha lewat ijin-ijin investasi atau bancakan proyek infrastruktur oleh birokrat.

Selebihnya, tidak ada hal yang istimewa dari buku setebal 264 halaman ini. Spasi antar kalimat dan baris yang lebar membuat buku ini cepat selesai dibaca, tidak sampai seja. Editorial, investigasi dan wawancara yang kurang tajam membuat buku ini cepat dilupakan dan tidak merangsang rasa ingin tahu pembacanya. Cukup 1 dari 5 bintang. 

0 komentar: