Kamis, 09 Juli 2015

War: What Is It Good For? by Ian Morris

Sejarah, paling tidak pelajaran sejarah, kerap menunjukkan perang sebagai sesuatu yang menakutkan. Ratusan ribu orang tewas, kelaparan melanda di area perang, wanita-wanita dibunuh dan diperkosa, lelaki dan anak-anak diperbudak, jutaan orang cacat seumur hidup. Penggambaran perang yang merujuk pada Perang Dunia II dan perang Vietnam inilah yang banyak dirujuk oleh buku-buku sejarah Indonesia dan tayangan televisi.
Ian Morris melihat perang dari sisi lain. Perang pasti membawa bencana, wabah penyakit, dan korban jiwa. Tapi tahun-tahun pasca perang juga membawa kemakmuran dan kesejahteraan. Pihak yang kalah perang menjadi bagian atau subordinat dari pihak pemenang. Mereka dilindungi dan bebas melakukan kegiatan sehari-hari, seperti bertani atau berdagang. Perekonomian berkembang. Taraf hidup meningkat. Ilmu pengetahuan dan filsafat maju. Teknologi baru ditemukan. Populasi manusia pun ikut bertambah. Itu baru dari sisi sosial dan ekonomi.

Dari sisi keamanan, situasi pasca perang yang produktif pun lebih aman. Lebih sedikit tindak kriminal. Adanya patroli keamanan di area pihak yang kalah oleh pihak pemenang perang membuat rasa aman penduduk dan kestabilan terjaga.
Morris menuturkan argumen kebaikan perang dari masa primitif manusia, ke masa kekaisaran Tiongkok, Romawi, Mughal, dan Persia, hingga ke abad 21, di mana Amerika Serikat menjadi polisi dunia. Ia menjelaskan kenapa kekaisaran-kekaisaran tersebut maju dan menyusut, apa yang menyebabkan perkembangan dan kemunduran tersebut, tantangan-tantangan yang mereka hadapi, area kekuasaan mereka, kapan mereka berkuasa, keunggulan-keunggulan tiap kekaisaran, dan bagaimana mereka memanfaatkan perang untuk tujuan produktif.
Membaca buku ini serasa membaca buku sejarah dunia dengan perspektif lain. Walau selama ini kita dicekoki anggapan bahwa Majapahit adalah kerajaan terbesar di dunia, tapi ternyata ia tidak ada apa-apanya dibanding Tiongkok dan Romawi. Pembaca juga disadarkan bahwa setiap kekaisaran punya keunggulan teknologi dan arsitektur bangunan sendiri-sendiri. Tiongkok punya kapal, crossbow dan mesiuindia dan persia punya gajah. Romawi punya infanteri. Tiongkok punya armada laut dan tembok ratusan kilometer. Roma punya Colosseum, aquaduct, dan viaduct. Persia punya taman tergantung dan kuil-kuil menjulang. India punya kereta perang dan rumah sejuk.
Dari buku War: What is it Good For?, pembaca diajak menghargai dan mengapresiasi masa-masa damai. Kedamaian tidak akan ada jika tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas keamanan, atau globocop. Globocop tidak akan ada tanpa perang dan peralatan perang. Paradox dari perang adalah: semakin sukses sebuah peperangan, semakin lama kedamaian yang diciptakannya. Perang dibutuhkan untuk menciptakan kedamaian.
Buku setebal 654 halaman ini sangat layak dikoleksi, terutama karena bisa didapat di Google Play dengan harga IDR 200ribu saja. Namun saya sarankan untuk membeli versi fisiknya di Periplus, karena buku ini sesuai dibaca berulang kali di kala bosa. 4.5 dari 5 bintang untuk War: What is it Good For?


0 komentar: