Sabtu, 01 Agustus 2015

Gencarnya Akuisisi Bank Lokal Oleh Investor Mancanegara

Dua tahun terakhir berita akuisisi bank lokal oleh investor mancanegara tidak masuk radar koran-koran arus utama, tapi selalu muncul di halaman depan koran-koran bisnis. Di antaranya akuisisi Bank Saudara dan Bank Ekonomi. Investor yang masuk berasal dari Korea, Timur Tengah dan Tiongkok. Alasan mereka mengakuisisi bank lokal adalah besarnya margin keuntungan bisnis perbankan di Indonesia. Net interest margin (selisih antara bunga tabungan dengan bunga kredit) bisa mencapai lebih dari 8%.
Namun saya melihatnya dari sisi lain. Menurut saya, masuknya investor asing ke bank lokal bisa meningkatkan efisiensi industri perbankan di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa BOPO (biaya operasional per pendapatan operasional) industri perbankan di Indonesia bisa mencapai 80%. Biaya operasional yang sangat tinggi disumbang oleh banyaknya kantor cabang, belum terintegrasinya sistem transaksi internal bank, dan masih banyaknya penggunaan karyawan untuk menjalankan fungsi operasional bank yang bisa dilakukan mesin.

Contoh penyetoran uang. Di sejumlah bank swasta, saat kita ingin menabung, cukup datang ke mesin setor tunai, masukkan kartu ATM, masukkan PIN, taruh uang yang ingin disetor ke selot khusus, maka mesin akan menghitung jumlah uang, menampilkannya di layar, dan meminta konfirmasi. Setelah kita klik OK atau setuju, uang yang kita setorkan otomatis masuk ke kredit tabungan kita. Nasabah akan mendapat kertas konfirmasi seperti saat menarik uang tunai.
Di Malaysia, Singapura, atau Australia, nasabah bisa bertransaksi reksa dana atau membeli asuransi lewat internet banking atau mesin ATM. Di sini, peraturan dari OJK dan belum terintegrasinya sistem identifikasi dan pengenalan belum memungkinkan hal itu. Peraturan know your client mewajibkan ada tatap muka antara calon nasabah dengan customer service, Manajer Investasi, atau agen asuransi. Satu lagi tambahan inefisiensi. Adanya peraturan tersebut justru menyebabkan bank-bank memaksimalkan jasa telemarketing yang menjebak calon nasabah untuk membeli produk mereka. Jadinya bukan know your client tapi trap your client.
Berkah masuknya investor asing ke bank lokal sudah dirasakan sejumlah nasabah yang jeli melihat variasi jasa yang ditawarkan bank-bank menengah. Di Bank OCBC NISP, calon nasabah bisa membuka rekening tabungan tanpa biaya bulanan tapi tetap mendapat fasilitas internet banking dan ATM. Nasabah bisa mengosongkan saldo tabungan di Commonwealth Bank tanpa takut tabungannya hangus, dan membeli reksa dana secara online. Kedua bank ini tidak memiliki kantor cabang yang banyak karena nasabahnya cenderung self-service dan melek teknologi.

Di masa depan, bisa saja kantor cabang hanya terdapat di ibukota provinsi. Nasabah bisa bertransaksi lewat telepon genggam atau sidik jari. Kantor-kantor dan mesin ATM ditiadakan, diganti mesin-mesin EDC dan kantor cabang bergerak di minibus (bank bus). Sistem transaksi dan dokumen internal semakin terintegrasi. Sistem transaksi antar bank lebih mudah dan cepat. Di saat itu, efisiensi bank semakin baik, nasabah tidak dibebani biaya bulanan terlalu tinggi. Dan kita baru merasakan manfaat masuknya investor asing ke industri perbankan nasional.

0 komentar: