Kamis, 03 September 2015

Ketika Warung Burjo Menggusur Angkringan

image belongs to jogjanoko.blogspot.com
Sekitar 5-10 tahun yang lalu, angkringan merajalela di Jogja. Sekarang jumlahnya semakin menyusut. Mayoritas mahasiswa memilih makan malam di angkringan daripada di warung. Tapi itu dulu. Seiring dengan kebangkitan kelas menengah dan semakin besarnya uang saku yang diterima mahasiswa yang berkuliah di Jogja, peran angkringan tergeser warung bubur kacang hijau, untuk mudahnya kita sebut burjo saja.
Dari segi penampilan burjo lebih bersih, terang dan rapi. Fasilitasnya juga lebih lengkap. Ada meja dan kursi kayu (sebagian kursi plastik), radio, televisi, lampu 40 watt, kerupuk dan air putih gratis. Kebanyakan burjo berlantai keramik dan berdinding bata yang dicat bersih. Variasi makanannya pun lebih banyak. Dari standar burjo seperti bubur ayam, bubur kacang hijau, mi rebus dan mi goreng sampai nasi sayur dengan lauk ikan laut atau kornet sapi. Jumlah variasi nasi, mi, bubur dengan bermacam sayur, lauk dan kuah bisa setara warung tegal biasa.
Beberapa burjo yang lokasinya strategis dan berpenerangan melimpah telah menjadi tempat bersosialisasi pelajar. Mereka betah mengobrol atau mengerjakan tugas disitu dengan ditemani alunan radio atau penyiar berita televisi walaupun tidak ada fasilitas wifi gratis (terima kasih akan internet gsm yang semakin cepat, sekarang hampir semua mahasiswa bisa menikmati internet dimanapun dan kapanpun).
Burjo adalah salah satu bisnis anak muda yang mudah dan murah dilakoni selain jus buah, binatu, camilan dan aksesoris. Modalnya lebih besar dibanding angkringan atau aksesori, tapi potensi keuntungannya cukup lumayan. Apalagi kalau lokasinya dekat kampus atau kompleks kos-kosan mahasiswa. Salah satu warung burjo yang terletak persis di tengah kompleks kos elit di Jogja selalu ramai selama 24 jam. Padahal kapasitas tempat duduknya mencapai 30an kursi. Dengan harga standar makanan 5-10ribu, margin keuntungannya cuma 10% (biaya mencakup bahan baku makanan, meja, kursi, peralatan masak, renovasi warung, listrik, televisi/radio, air, dan lain-lain). Tapi perputaran uangnya relatif cepat karena banyak pelanggan yang masuk dan keluar. Kalaupun ada yang berlama-lama, mereka biasanya membeli cemilan atau minuman terus-menerus.
Fenomena tergusurnya angkringan oleh burjo dan jus menandai bergesernya selera makan mahasiswa. Kalau dulu cukup nasi kucing 2 bungkus, sekarang mereka lebih suka omelette yang terdiri dari telur, mi goreng, cacahan kubis dan wortel atau nasi sayur ikan. Mereka juga lebih suka minum jus buah daripada wedang jahe. Sepertinya sudah ada kesepakatan kalau warung burjo tidak akan menjual jus dan kedai jus tidak akan menjual makanan yang mengenyangkan).
Dulu pedagang angkringan didominasi pasangan paruh baya. Sekarang mereka menghilang, berganti berjualan gado-gado, capcay atau nasi kuning. Bisnis dekat kampus, pemukiman dan kos-kosan sekarang didominasi oleh anak muda.

0 komentar: