Sabtu, 05 Juli 2014

Foreign Net

Di dunia pasar modal, terkadang sejumlah analis atau pengamat membuat rekomendasi beli atau jual saham berdasarkan foreign net. Misalnya: jual saham ASII (Astra International) karena sudah 3 hari berturut-turut mengalami foreign net sell. Beli saham PGAS (PGN: Perusahaan Gas Negara) karena sudah 8 hari foreign net buy.

Pembaca atau penonton analis yang belum akrab dengan pasar modal pasti bingung, makhluk macam apa foreign net buy – foreign net sell ini? Kenapa analis-analis itu berani menyuruh beli berdasarkan perilaku makhluk ini?
Buat yang belum akrab, foreign net adalah selisih bersih antara nilai (dalam rupiah) saham yang dibeli dengan yang dijual investor asing di Indonesia. Foreign net sell berarti lebih banyak investor yang menjual saham. Foreign net buy kebalikannya, lebih banyak investor asing yang melakukan pembelian.
Lantas, kenapa FNB /FNS bisa dipakai untuk menentukan rekomendasi para analis? Simpel, karena 60% lebih investor di pasar modal adalah dana asing. Walau jumlah orang atau institusinya di bawah investor lokal, tapi merekalah yang menyumbang 60% investasi pasar modal di Indonesia.
Dengan melihat seberapa besar FNB/FNS, kita bisa memperkirakan langkah mereka selanjutnya dan seberapa besar kecenderungan suatu saham untuk naik atau turun. Walau tidak mutlak.
ASII mengalami FNS mungkin karena sebagian besar investor asing merasa kenaikan BBM akan langsung mempengaruhi bisnis ASII. Di sisi lain, PGAS terus menerus dibeli investor asing (FNB) karena ia baru saja menyelesaikan pembangunan jaringan pipa baru, yang berdampak meningkatkan jumlah pelanggan gas dan menambah pemasukan.

Yang perlu diingat investor lokal adalah: jumlah dan asal negara investor asing tidak hanya satu, melainkan puluhan negara. Mereka punya pendapat yang berbeda-beda soal investasi di Indonesia. Kalau McQuarie menjual ASII, belum tentu Nomura ikut menjual. Bisa saja mereka justru membeli. Selamat berinvestasi. 

0 komentar: