Jumat, 11 Juli 2014

Piala Dunia yang Senyap

Gelaran Piala Dunia sudah memasuki fase Final. Akan berlaga dua tim yang memperebutkan trofi Jules Rimet, Jerman versus Argentina. Hasil Final ini meleset dari ramalan banyak analis dan bursa taruhan (kebanyakan menjagokan Brazil versus Argentina, tapi Brazil sudah dilindas tim Panser 7-1 di semifinal). Tapi, terasa ada yang kurang dari Piala Dunia kali ini.

Apa itu? Keriaannya. Antusiasnya. Euforianya. Hajatan sepakbola terbesar itu, tahun ini tidak semeriah 4 tahun yang lalu. Memang masih ada acara nonton bareng, tapi tidak seheboh saat di Afrika Selatan atau Jerman. Tidak ada orang-orang yang ribut membicarakan negara jagoannya, atau perkiraan hasil pertandingan di warung atau rumah makan. Koran-koran masih bersemangat mengulas, tapi jumlah artikel liputannya tidak sebanyak 4 tahun yang lalu. Tempat-tempat makan, rumah dan kos-kosan hanya ramai saat im tertentu bertanding (kos putri khususnya, hanya ramai saat Jerman bertanding). Masyarakat Indonesia tidak seantusias dulu dalam menikmati Piala Dunia.
Sebagian penyebabnya karena Piala Dunia kali ini bertabrakan dengan Pemilihan Presiden. Masyarakat lebih suka membahas calon presiden pilihannya, capres mana yang lebih baik atau penampilan mereka dalam debat capres. Semua orang merasa kali ini suara mereka benar-benar lebih berharga karena hanya ada 2 pasang capres-cawapres yang berlaga. Every vote count.
Penyebab kedua adalah mahalnya biaya nonton bareng. Televisi pemegang hak cipta mematok harga luar biasa tinggi untuk menggelar acara nonton bareng. Akibatnya hanya sedikit kafe atau rumah makan yang bersedia berpartisipasi.
Ketiga: kedua tivi Bakrie pemegang hak cipta tidak terlalu agresif memasarkan hak siar Piala Dunia. Mereka lebih suka melakukan kampanye hitam dengan memfitnah salah satu capres (mulai dari isu SARA sampai komunis, semua dilemparkan). Sehingga, penonton hanya berminat menonton kalau pertandingan betul-betul sudah dimulai dan cacian dari penyiar tv sudah berhenti.

Terakhir, Piala Dunia kali ini, mulai dari fase 16 besar, dimulai bersamaan dengan bulan Ramadhan. Sebagian besar umat muslim lebih suka i’tikaf di masjid dibanding menonton sepakbola yang highlightnya bisa dinikmati lewat Youtube.

0 komentar: