Kamis, 11 Desember 2014

Akibat Buruk Sedekah Pada Pengamen

Suatu siang di dalam bis yang pengap, kondektur bus sedang berbincang dengan seorang pengamen, anak muda lulusan SMA yang mengamen dengan gitar abal-abal dan suara fals. Si kondektur menawari anak itu pekerjaan di sebuah pabrik di Sleman dengan bayaran minimal 25ribu per hari. Pekerjaannya sederhana, tidak sampai 5 jam per hari. Bocah itu menolak. Alasannya, hanya dengan bermodal gitar rusak dan suara cempreng ia bisa membawa pulang ±50ribu per hari, hanya dengan mengamen 3-5 jam. Jika ia bekerja di pabrik, belum tentu ia bisa membawa pulang uang sebesar itu, bahkan kalau hasil kerjanya jelek, ia bisa pulang dengan tangan hampa. Pak kondektur hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar jawaban si pengamen.

Ada 2 hal yang segera ditarik dari percakapan tersebut. Pertama: pekerjaan serabutan yang pendapatannya kurang pasti tapi akuntabilitasnya tidak ada, seperti mengamen, mengemis, atau memalak orang masih lebih diminati dibanding pekerjaan tetap yang pendapatannya pasti dan akuntabilitasnya harus selalu ada.
Kedua: kebiasaan beramal memberi uang kepada pengamen dan pengemis di masyarakat kita justru melahirkan generasi muda pemalas seperti pengamen tadi. Buat apa susah-susah bekerja 6-8 jam sehari kalau dengan meminta-minta saja sudah dapat penghasilan lebih tinggi.
Selama ini, media dan pemerintah lebih berfokus pada pengembangan kewirausahaan untuk mengurangi pengangguran. Padahal, wirausaha manapun memerlukan tenaga kerja untuk menggerakkan bisnisnya. Tenaga kerja paling produktif adalah manusia berusia 18-35 tahun. Jika anak muda dengan usia segitu lebih memilih untuk mengamen, darimana wirausahawan memperoleh tenaga kerja bagi bisnisnya?

Langkah pak kondektur menawari si pengamen pekerjaan tetap itu sudah benar. Ia mungkin prihatin melihat potensi bocah itu tersia-sia. Namun hukum ekonomi berlaku disini. Bocah pengamen itu memilih mengamen karena lebih menguntungkan dibanding kerja tetap dan terjamin di pabrik. Rasa belas kasihan kita, masyarakat yang memberi sedekah kepada pengamen itu adalah alasan utama kenapa ia enggan bekerja di sektor formal. 

0 komentar: