Minggu, 28 Desember 2014

Pelajaran Dari Kesuksesan Polyglu Di Bangladesh

Melihat kesuksesan PolyGlu di Bangladesh, saya jadi berpikir, mungkinkah hal yang sama bisa dilakukan di Indonesia? Atau di proyek-proyek sosial lain? Selama ini proyek bantuan sosial kurang sustainable karena masyarakat yang jadi sasaran tidak dilibatkan. Pemberi bantuan (LSM & Pemerintah) merasa sebagai pihak yang lebih tahu dan lebih tinggi, menganggap penerima bantuan sebagai pihak pasif.
Jika memakai pendekatan bisnis, pihak sekitar ikut dilibatkan. Mereka harus membayar, entah dengan uang, hasil pertanian, atau waktu untuk mendapatkan bantuan. Pemberi bantuan bertanggung jawab memberi penjelasan bahwa pertukaran ini jauh lebih murah dan bermanfaat bagi penerima bantuan atau masyarakat dibanding saat belum ada bantuan. Bahkan jika fasilitas fisik sudah terbangun, penduduk sekitar bisa diberdayakan untuk menyebarkan manfaat bantuan tersebut.

Ambil contoh pembangunan kilang penyulingan minyak jarak yang gagal total. Pemerintah, LSM dan perusahaan hanya menyerahkan alat penyulingan jarak dan bibit tanaman jarak, melakukan penanaman simbolis, lalu pergi begitu saja. Mereka alpa memberi penyuluhan penanaman jarak, melatih penggunaan kilang pengolah minyak jarak, mengajari cara memasarkan minyak jarak, memanfaatkan minyak untuk konsumsi lain, dan mengemas dalam wadah yang menarik konsumen. Jika saja mereka mau meluangkan waktu lebih banyak seperti yang dilakukan PolyGlu di Bangladesh, niscaya minyak jarak akan lebih banyak digunakan, dikenal masyarakat, dan bantuan mereka tidak sia-sia. Tapi karena merek enggan melakukan aksi keberlanjutannya, kilang-kilang minyak jarak tersebut berkarat dan terlantar. Pohon-pohon jarak hanya ditanam untuk peneduh tanpa dipanen. Bantuan mereka menjadi sia-sia.
Unilever sudah melakukan hal yang mirip dengan PolyGlu. Mereka memberdayakan petani kedelai agar bersedia menanam kedelai hitam untuk kecap Bango. Dengan rayuan “berapapun hasilnya pasti dibeli”, penyuluhan berkala dan kendali kualitas berkelanjutan, Unilever berhasil memberdayakan puluhan petani kedelai. Sebelum Unilever masuk, petani-petani tersebut belum mengenal standar kualitas mutu, budidaya kedelai yang tepat, ataupun memilih varietas yang paling menguntungkan. Mereka yang tadinya tidak tahu varietas kedelai yang pas untuk tahu, tempe, tauco, kecap atau natto, sekarang bisa memilih menanam kedelai yang sesuai dengan target pemasaran mereka.

Saya bermimpi suatu saat Semen Indonesia atau Holcim bersedia meramu semen berbahan baku lumpur Lapindo, dengan tenaga kerja orang-orang yang rumahnya disapu lumpur. Mungkin pendapatan kedua perusahaan tersebut tidak sebesar jualan semen konvensional, tapi dengan mengolah lumpur menjadi semen atau batako dan memasarkannya sebagai bahan bangunan anti gempa di daerah pantai selatan Jawa kedua perusahaan tersebut bisa mendapat publisitas yang bagus. Mungkin saat ini belum bisa, karena baik Semen Indonesia maupun Holcim belum punya paten tekonolgi untuk mengekstrak garam dari lumpur. Tapi jika mereka bisa menarik perhatian investor dari Tiongkok atau peneliti Jepang, mungkin mereka bisa saja mendirikan pabrik semen dan batako di Sidoarjo sana. Semoga terkabul.

0 komentar: