Selasa, 06 Oktober 2015

Hijab (2015)


Islam menyarankan kaum wanita untuk berhijab, tujuannya untuk menutupi aurat sehingga tidak memancing hawa nafsu pria dan filnah. Di Arab tahun 700 Masehi hal itu mungkin terasa wajar, tapi di era modernisasi dan kesetaraan hak makhluk hidup abad 21 hal tersebut absurd dan tidak masuk akal. Film Hijab yang disutradarai Hanung Bramantyo menyajikan ketidaksesuaian hijab dengan filosofi kesetaraan gender.
Tersebutlah 4 orang sahabat, 3 diantaranya berhijab. Tata, Bia, dan Sari adalah 3 ibu rumah tangga pemakai hijab. Anin, satu-satunya yang tidak memakai hijab/jilbab di empat sekawan itu yang juga belum berminat menikah. Suatu hari suami Sari menyindir arisan ibu-ibu yang memakai uang suami. Keempat sekawan tersebut pun memutuskan untuk berbisnis hijab agar tidak terlalu tergantung pada pasangan. Dalam waktu beberapa bulan saja, bisnis mereka pun meningkat pesar. Masalah mulai muncul saat para suami mulai cemburu saat penghasilan istri mereka melebihi penghasilan mereka sendiri. Ketiga ibu rumah tangga yang terlibat pun mulai kesulitan membagi waktu antara bisnis dengan anak-anak mereka.

Hijab adalah film paling kocak yang saya tonton tahun ini dialog – dialog jenaka yang dilontarkan aktor – aktrisnya lebih lucu dibanding film komedi lokal manapun, lebih kocak dibanding Comic8. Kekuatan utama Hijab terletak pada dialog yang spontan dan kocak tapi tetap terikat pada cerita, sinematografi yang jernih dan berwarna-warni, dan cerita yang tetap terkait utuh dari awal sampai akhir. Nyatis tidak ada satu pun adegan yang terbuang sia-sia. Bahkan adegan yang terasa tidak penting di awal cerita ternyata berperan penting menentukan pilihan salah satu tokoh utamanya.
Menonton Hijab membuat kita mempertanyakan peran wanita dalam budaya Islam. Mulai dari wanita diperlakukan sebagai barang (properti), wanita harus tinggal di rumah, wanita tidak boleh bekerja, penghasilan wanita tidak boleh melebihi suami, wanita tidak boleh mengambil keputusan tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan ayah atau suaminya, wanita harus menutup seluruh tubuhnya, dan lain-lain. Hukum Islam yang mencontek Athena memang tidak berpihak pada wanita, karena di Athena sendiri wanita diperlakukan layaknya budak. Sementara peradaban modern memberi peran bagi wanita modern layaknya wanita Sparta, dimana mereka bisa bekerja, berperang, mengasuh anak, bekerja, punya properti (tanah, rumah, kebun, ternak), dan mengambil keputusan sendiri. Hukum Islam yang berhubungan dengan wanita tidak sesuai diaplikasikan di ranah Modern. Jika hukum Islam diterapkan saat ini, kita tidak akan bisa dipimpin oleh Angela Merkel yang disiplin dan welas asih atau Park Geun Hye yang taktis dan dinamis. Sebaliknya, hukum syariah memungkinkan Hitler atau Amangkurat 1 memimpin dan membantai rakyat mereka dengan alasan agama.

Seperti layaknya film komedi bagi penonton Indonesia, Hijab sengaja diakhiri dengan happy ending. Akhir cerita film ini dibuat senormal dan sebahagia mungkin, walaupun kandungna lelucon dan emansipasinya berkurang. Jika kelak Hanung berniat menerbitkan DVDnya, Hijab termasuk wajib dikoleksi. 4.5 dari 5 bintang untuk Hijab. 

0 komentar: