Kamis, 01 Oktober 2015

Netflix’s House of Cards

Politik selalu menarik karena melibatkan drama yang bisa ditonton semua orang. Saat pemilu atau pembuatan undang-undang baru, selalu muncul kebingungan tentang apa yang sebenarnya dilakukan para wakil rakyat itu. Di saat itu, beberapa forum diskusi terkadang menyinggung serial televisi atau tontonan yang memberi penontonnya hiburan sekaligus pemahaman tentang politik. Saat ini, ada 3 serial televisi yang terkadang disinggung saat perdebatan politik memanas, yaitu: The West Wing, Hous of Cards, dan Veep.
Pangeran Siahaan, seorang komentator sepakbola pernah menulis: di The West Wing, powerful people melakukan hal-hal baik. Di House of Cards, powerful people melakukan hal-hal mengerikan. Di Veep, powerful people melakukan hal-hal bodoh. Indonesia, sialnya, lebih menyerupai Veep. Saya sudah menonton ketujuh season serial The West Wing, dan setuju dengan pendapat di atas. Sasaran binge-watching selanjutnya adalah House of Cards.

Serial dari saluran televisi  khusus internet, Netflix, ini sekarang sudah menamatkan ketiga seasonnya. Satu season terdiri atas 13 episode. Dibintangi oleh Kevin Spacey dan Robin Wright, serial ini hanya bisa dinikmati jika kita berlangganan Netflix dan punya saluran internet supercepat. Jika tidak, bersiaplah meminjam ke rental DVD terdekat. Di awal penayangannya 3 tahun lalu, serial ini sudah memanen pujian karena kepiawaian akting bintang-bintangnya.
Francis Underwood adalah seorang pengumpul suara (the Whip) Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat (alias DPR). Ia sudah dijanjikan posisi Menteri Luar Negeri, tapi di saat terakhir pesaingnya berhasil mendapatkan nominasi untuk posisi tersebut. Ia pun bersumpah akan membalas dendam kepada orang-orang yang menghalangi pencalonannya, dengan cara merebut posisi Presiden. Dengan bantuan istrinya, Claire Underwood, dan asisten setianya, Doug Stamper, mereka merancang strategi tiap malam untuk mewujudkan rencana mereka.
Menonton House of Cards sangat tepat jika anda sudah membaca Sang Pangeran, masterpiece dari Nicolo Macchiavelli. Seorang politisi atau penguasa harus taktis, tahu cara memainkan kartunya dengan tepat, pandai mencari dukungan, serta lihai memanipulasi kawan, lawan, dan pendukung. Ia juga harus tegas dan kejam, karena tanpa kedua hal tersebut tidak ada gunanya bermain politik.
Dalam hal idealisme cerita, penonton dibuat merinding sekaligus terkesima menyaksikan manuver-manuver politik Frank dan Claire. Keduanya adalah master dalam perencanaan dan eksekusi jangka panjang. Mereka pandai menentukan situasi, kapan berkata jujur dan kapan bermuka dua. Mereka tidak buru-buru mengecap hasil perencanaan atau segera membalas lawan-lawannya, tapi memilih bersabar dan menunggu demi hasil yang lebih manis.
Sama seperti The West Wing, House of Cards memberi penontonnya lebih banya pelajaran tentang politik dibanding bangku kuliah. Bahwa terkadang untuk melakukan hal-hal baik, seorang politisi harus melakukan hal-hal mengerikan. Bahwa tanpa dukungan rakyat di daerah pemilihannya, seorang politisi bukanlah apa-apa. Bahwa berjalannya pemerintahan sesungguhnya kerja tim atanra eksekutif (presiden dan pembantu-pembantunya), partai pendukung sang presiden sekaligus oposisi. Pemerintahan sulit berjalan seimbang jika tidak ada oposisi yang mengoreksi mereka.

Selama 55 menit penayangan dalam satu episode, penonton tidak akan dibuat terpesona oleh dialog cerdas dan bermutu ala The West Wing atau Leverage. Tapi kita akan terperangah menyaksikan reaksi seseorang saat sesuatu diucapkan, atau terkejut saat menyadari rencana Frank dan Claire yang terwujud. Setiap episode House of Cards bisa dibilang sangat memuaskan. Kekurangannya: cliffhanger di tiap akhir episode kurang kuat menarik penonton atau memaksa mereka menonton episode selanjutnya. Mungkin karena serial ini ditayangkan di televisi internet, jadi penonton otomatis bisa langsung melanjutkan ke episode selanjutnya, tidak perlu menunggu seminggu seperti serial televisi biasa. 

0 komentar: