Sabtu, 10 Oktober 2015

The Crown Of Ptolemy By Rick Riordan

  Pembaca setia blog ini pasti sadar bahwa saya adalah penggemar berat Rick Riordan. Tulisannya yang kocak nan cerdik berhasil menarik saya untuk terus menerus membeli karya-karyanya. Riordan adalah seorang penulis yang cukup produktif. Walalupun tidak seproduktif James Patterson yang tiap kuartal merilis novel baru, Riordan paling tidak selalu berusaha menerbitkan 1-2 buku tiap tahun. Untuk seorang penulis dengan karir yang matang dan promosi buku nyaris tanpa henti, prestasi produktivitasnya layak diacungi jempol. 
        Tahun 2014 kemarin Riordan mampu menerbitkan satu buku (Greek Gods) dan satu cerita pendek (Crown of Ptolemy). Tahun ini ia sudah merilis Greek Heroes dan berencana merilis Magnus Chase and The Sword of Summer di bulan Oktober. Karena saya sudah pernah membahas Greek Gods dan Greek Heroes, kali ini saya akan mengulik Crown of Ptolemy.
       The Kane Series yang mengangkat mitologi Mesir bisa dikatakan karya gagal Riordan. Penjualannya tidak sebagus serial Percy Jackson. Lelucon-leluconnya kurang pas dengan situasi, deskripsi karakter-karakternya sulit diimajinasikan, jalan ceritanya agak melompat-lompat, dan dewa-dewi yang diperkenalkan nama-namanya sulit diucapkan dan tidak familiar. Namun Riordan tidak menyerah. Ia mengkombinasikan dua tokoh utama Kane Series: Carter Kane dan Sadie Kane, dengan dua tokoh utama serial terlarisnya: Annabeth Chase dan Percy Jackson. Dalam Son of Sobek, Percy Jackson dan Carter Kane bekerja sama menaklukkan buaya raksasa. Dalam Staff of Serapis, Annabeth Chase dan Sadie Kane bahu membahu mengalahkan hewan mitologi purba. Dalam spin-off ketiga, Crown of Ptolemy, mereka berempat bersatu meredam ambisi Setne bertransformasi menjadi dewa Mesir.
        Menilik jalan cerita dan dialognya, Crown of Ptolemy lebih menyerupai serial Percy Jackson yang pertama: The Olympians. Percy masih kocak, nakal, dan cerdas melontarkan komentar, belum seganas dirinya dalam seri Heroes of Olympus. Annabeth, seperti biasa, masih penuh perhitungan dan cerdik, belum menjadi sedih dan terluka pasca Heroes of Olympus. Lini masa cerita Crown of Ptolemy terjadi seusai Blood of Olympus dan sebelum Percy menarasikan Greek Heroes (di akhir Greek Heroes disebutkan Percy dan Annabeth akan mengadakan reuni awak Argo 2).
     Setne, penyihir licin nan tangkas dari The Kane Series, berusaha mengikuti jejak Serapis untuk menggabungkan sihir Mesir dan Yunani. Setne berambisi merekonstruksi Mahkota Ptolemeus untuk membuar dirinya menjadi dewa Yunani dan Mesir sekaligus. Percy, Annabeth, Carter, dan Sadie berusaha menghentikannya. Percy bertarung melawan Setne di angkasa, dibantu dewi elang Nekhbet, dan di laut (pertempuran yang terlalu singkat karena Percy sangat kuat di laut). Annabeth, Carter, dan Sadie merapal mantera untuk memerangkap Setne. Saat Percy membawa Setne dengan satu tangan saja, mereka bertiga tinggal merapal mantera terakhir yang memenjarakan Setne.
        Crown of Ptolemy tampak hadir sebagai permintaan maaf Riordan kepada penggemar Percy dan Annabeth, karena mereka berdua nyaris tidak mendapat porsi beraksi di Blood of Olympus. Keduanya sudah sembuh dari luka batin pasca Tartarus. Sadie dan Carter sudah melewati masa damai. Dalam Crown of Ptolemy, digambarkan Percy mengalami growth spurt, pertumbuhan fisik yang luar biasa. Dari penggambaran saat ia bertarung dengan Setne, pembaca langsung mendapat gambaran jika fisik Percy sudah melebihi 180 cm. Posturnya pun tak lagi ceking. Ia menjadi lebih gempal seperti atlet sepakbola. Dari cara Percy membayangkan Sadie sebagai anaknya dengan Annabeth, pembaca sadar bahwa pikiran Percy beranjak dewasa.
       Crown of Ptolemy bisa didapatkan di Google Play seharga IDR 50ribu, dengan tebal 53 halaman. 

0 komentar: