Jumat, 31 Desember 2010

Liga Sepakbola Eropa

   Di Indonesia siaran langsung sepakbola di televisi lokal hanya menayangkan liga indonesia (entahlah sekarang apa namanya, tiap tahun ganti), La Liga Spanyol (Liga BBVA) dan English Premier League. Buat yang berlangganan televisi berbayar bisa menikmati tambahan Serie A Italy dan JLeague Jepang. Yang memakai televisi satelit 4 LNB bisa menikmati tambahan France Ligue 1 dan Liga Qatar (atau Arab? saya juga bingung). Intinya adalah pilihan pencinta sepakbola di tanah air untuk tayangan sepakbola berkualitas.

   Fans sepakbola di Indonesia sejauh ini didominasi oleh pencinta klub Serie A dan Premier League. Bisa dimaklumi karena Serie A adalah liga eropa pertama yang ditayangkan di televisi lokal secara gratis pada akhir 1990an dan bertahan sekitar 4 tahunan sebelum datang English Premier League. Pencinta sepakbola pun disuguhi siaran sepakbola alternatif yang gratis. Banyak fans yang kemudian beralih menjadi fans klub-klub inggris raya. 
   Karakter Serie A sendiri (setahu saya) memang berbeda dengan EPL. Serie A lebih mengandalkan pertahanan yang kuat (catenaccio) dan serangan balik, sementara EPL identik dengan filosofi kick and rush (tendang yang jauh dan lari). Memang ada beberapa klub di Serie A yang mengandalkan sepakbola menyerang dan penguasaan bola yang tinggi, tapi cuma 2-3 klub yang dilatih pelatih asing. Beberapa klub EPL pun tidak selalu mengandalkan kick and rush. Contohnya Arsenal dan Blackpool mengandalkan sepakbola menyerang yang dibarengi penguasaan bola yang dominan dan aliran bola cepat.
    La Liga Spanyol yang baru datang 2-3 tahun terakhir ini punya karakter yang mirip permainan Arsenal dan Blackpool, tapi karena fisik pemain-pemainnya tidak setinggi dan sekekar pemain EPL mereka lebih mengandalkan teknik bermain bola yang tinggi (passing akurat, dribbling menipu, tendangan bebas melintir,dll) plus kemampuan pergerakan tanpa bola. Perbedaan paling mencolok dari La Liga adalah hanya 2 tim yang berkompetisi memperebutkan gelar juara La Liga, yaitu Real Madrid dan Barcelona. Tim-tim lain hanya sanggup sekali-sekali menyela untuk 1-2 tahun sebelum kedua klub tersebut mengambil pelatih dan pemain-pemain mereka dengan imbalan biaya transfer mahal dan gaji tinggi.
    Tahun 2008 Ligue 1 sempat ditayangkan oleh TVRI, sayangnya sekarang sudah tidak lagi. Ligue 1 punya karakteristik antara La Liga dan EPL. Pemain-pemain sepakbola di sini fisiknya tinggi dan besar mirip dengan pemain-pemain EPL tapi skill dasar, insting dan teknik sepakbolanya hampir sebagus La Liga.  Sayangnya mental pemain-pemain Ligue 1 kurang teruji ketika berlaga di Champions League dan European League, jadi tidak heran hanya Olympique Marseille yang sempat mencicipi gelar Liga Champions. Medio 2000an Ligue 1 didominasi Olympique Lyon yang menyabet gelar juara dari 2001-2008. Rata-rata pemain sepakbola di Ligue 1 tidak berencana seumur hidup berlaga di kompetisi domestik. Sebagian besar sudah bermimpi sejak kecil untuk bermain di Arsenal (banyak pemain Prancis, tidak perlu adaptasi), Bayern Muenchen, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan dan klub-klub besar lainnya.
    Bundesliga Jerman tahun 2010 menjadi tontonan menarik lain yang ikut dipengaruhi oleh bersinarnya penampilan Die Nationalmannschaft (tim nasional Jerman) di Piala Dunia Afsel 2010. Timnas Jerman mengandalkan pertahanan yang kuat disertai penguasaan bola yang tinggi. Bila lawan menekan balik, mereka sanggup menggunakan taktik serangan balik yang cepat untuk mencetak gol ke gawang lawan. Selama Piala Dunia 2010, Jerman 3 kali menggasak lawannya dengan skor besar, 4-0 lawan Australia, 4-1 lawan Inggris, 4-0 lawan Argentina, sebelum akhirnya dihentikan Spanyol dengan skor 1-0.
   Tahun 2009 ialah awal kebangkitan Bundesliga setelah pada awal 2000 dihajar krisis ekonomi yang memaksa klub-klub Bundesliga berhemat. Penghematan ini membuat mereka lebih berfokus pada pengembangan talenta muda lokal yang diproyeksikan sebagai tulang punggung klub di masa depan. Adanya pemain-pemain lokal yang berlaga di klub lokal juga membuat fans klub dari daerah sekitar bersedia datang ke stadion, berlangganan tiket tahunan untuk menonton pertandingan dan membeli merchandise klub karena merasa ikut memiliki klub. Piala Dunia Jerman 2006 ikut andil dalam kebangkitan sepakbola Jerman. Klub-klub menikmati berkah stadion Piala Dunia yang lebih baru, besar, canggih dan multifungsi (beberapa stadion memiliki kapel di dalamnya). Dan pada tahun 2009 ketika Bayern Muenchen mencapai final Champions League Bundesliga sepertinya mulai bangkit. Berkat Muenchen yang mencapai final, maka efektif sejak 2012 Bundesliga punya 4 klub wakil liga yang berlaga di Champions League.
    Bundesliga musim 2010/2011 bisa dibilang musim yang penuh kejutan. Kejutan pertama adalah munculnya Mainz sebagai pemuncak klasemen di 10 minggu pertama. Kejutan kedua adalah tumbangnya penguasa Bundesliga seperti Bayern Muenchen, Wolfsburg, dan Stuttgart di tangan tim-tim "tidak terkenal" seperti Mainz dan Borussia Dortmund. Kejutan lain adalah munculnya Borussia Dortmund sebagai pemuncak klasemen musim dingin dengan keunggulan 10 poin dari peringkat kedua, Mainz. Schalke yang sudah mendatangkan bintang La Liga seperti Raul Gonzales dan Wolfsburg yang sudah belanja besar-besaran tidak mampu mengimbangi permainan Dortmund dan Mainz. Schalke kalah 3-0 dari Dortmund. Wolfsburg akhirnya kalah 4-3 dari Mainz setelah sempat memimpin 3-0.
    Mainz dan Borussia Dortmund adalah dua tim penuh kejutan di Musim 2010/2011. Keduanya tim muda penuh semangat. Thomas Tuchel (Mainz) dan Juergen Klopp (Borussia Dortmund) usianya kurang dari 50 tahun. Mainz dibangun dari pemain-pemain pinjaman klub Bundesliga lain dan pemain buangan dari klub besar yang usia rata-ratanya 25 tahun. Misalnya Adam Szalai adalah buangan Real Madrid dan Lewis Holtby dipinjam dari Schalke. Borussia Dortmund berisikan pemain-pemain muda dengan usia rata-rata 23 tahun yang rata-rata merupakan binaan klub sejak kecil (kecuali Shinji Kagawa dan Lukasz Piszczek). 
   Thomas Tuchel adalah pelatih klub Bundesliga termuda dengan usia 37 tahun. Sekarang ia terkenal sebagai ahli strategi yang tidak ragu merombak total skuadnya tiap pertandingan. Hal ini tidak mengherankan karena ini tahun kedua ia menjadi pelatih kepala di Mainz dan ia bertanggung jawab membentuk skuad yang bermain baik tiap pertandingan, bahkan ketika sudah ditinggal pemain-pemain pinjaman. Juergen Klopp juga seorang ahli strategi yang handal, tapi ia tidak terlalu sering bereksperimen dengan pasukannya karena mereka sudah terbentuk dan mapan. Cuma perlu tambahan motivasi dan taktik bertahan bila bertemu dengan tim yang (sepertinya) lebih kuat.
    Dari kesemua liga di atas, saya paling menyukai Bundesliga dan Ligue1 walaupun untuk menontonnya harus streaming dari internet. Bundesliga karena permainan cepat, menarik, dan teknik tinggi yang dipertontonkan para pemainnya. Memang saya hanya menonton pertandingan Mainz dan Borussia Dortmund karena kedua tim itulah favorit saya. Alasan saya menonton Ligue 1 lebih remeh lagi, yaitu pemain-pemainnya ganteng-ganteng =)) . Jadi motivasi utama menonton Ligue 1 adalah cuci mata, yang diperhatikan bukan bolanya tapi pemainnya. Saya pun tidak mau repot menghafalkan nama pemain-pemain Ligue 1. Kalau bundesliga kemana bola bergerak kesitula mata saya memandang. Memang ada beberapa pemain Bundesliga yang hot (Sven Bender, Nuri Sahin) walau tidak semenarik Gonzalo Higuain atau Robin Van Persie, tapi skill sepakbola pemain Bundesliga mengungguli tampang mereka :D

0 komentar: