Senin, 03 Januari 2011

Shopping

   Wanita normal mana si yang tidak suka shopping alias belanja?? Entah itu cuma window shopping atau belanja kebutuhan harian sampai shopaholic sejati yang suka kalap kalo belanja. Window shopping atau cuci mata biasa dilakukan kalau hanya ingin melepas kejenuhan atau pengen beli tapi tidak punya cukup dana. Wanita yang bijaksana membelanjakan uangnya tahu mana barang yang dibutuhkan, mana yang tidak terlalu dibutuhkan dan mana yang hanya untuk senang-senang.  
    Shopaholic ialah orang yang memiliki kecenderungan untuk terus berbelanja tanpa bisa memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Contoh sempurna tokoh shopaholic adalah Rebecca Blomwood alias Becky di film Confession of a Shopaholic. Di film yang diangkat dari novel laris karya Sophie Kinsella ini dikisahkan tokoh Becky ini begitu terobsesi dengan kegiatan belanja sampai berhutang sana-sini. Walaupun akhirnya ia bisa membayar cicilan kartu kreditnya, tetap saja kegiatan belanja kompulsif seperti itu merugikan diri sendiri.

    Saya sendiri lebih suka jalan-jalan dan cuci mata alias window shopping daripada belanja betulan. Pertimbangannya antara lain : saya tidak terlalu suka membeli baju yang belum tentu saya pakai, singin tahu tentang model baju seperti apa yang sedang in, lebih suka membelanjakan uang untuk buku dan makanan, belum punya penghasilan sendiri, dan saya suka melihat busana atau sepatu saat dipajang di butik daripada saat dibawa pulang dan hanya ditaruh di rak sepatu. Oleh karena itu saya sering sekali berputar-putar di butik atau department store mencoba berbagai macam sepatu dan baju selama berjam-jam tapi keluar tidak membeli apapun atau hanya membeli long pants seharga kurang dari IDR 50000.
     Harga adalah masalah sensitif buat saya. Sebisa mungkin membeli barang yang dibutuhkan dengan kualitas bagus tapi harganya bisa ditekan serendah mungkin. Kriteria busana yang akan saya beli adalah bisa dipakai lebih dari 5 tahun, bahannya menyerap keringat, klasik (tidak harus mengikuti mode) dan saya belum punya yang sejenis. Untuk busana dengan kriteria seperti itu saya tidak keberata membayar lebih mahal karena saya percaya bahwa kualitas menentukan harga.
      Sepatu yang akan saya beli kriterianya lebih sederhana. Yang penting enak dipakai di kaki dan menyerap keringat. Soal modelnya yang up to date atau tidak itu pertimbangan sesudah harga. Jujur, saya lebih suka keluar masuk survei ke berbagai toko untuk mencari barang dengan kualitas terbaik dan harga termurah daripada pergi ke butik besar dan langsung membeli saat itu juga.
      Tempat belanja paling menarik menurut saya adalah Pasar Pagi UGM dan Pasar Beringharjo, di Yogyakarta, Pasar Tanah Abang di Jakarta, dan Pusat Grosir Solo di Surakarta. Untuk urusan koleksi busana dan harga memang Pasar Tanah Abang yang paling lengkap dan murah. Mulai dari batik pesisir sampai jins made in China ada dengan harga yang amat sangat bersaing sekali. Tidak cuma baju, tapi aksesoris juga ada. Sepatu, tas, kalung, manik-manik, ikat pinggang dan lain sebagainya. Dan sepertinya semua orang sudah tahu kalau merk-merk luar negeri yang dijajakan di Pasar Tanah Abang tidak ada yang asli alias bajakan semua.
      Pasar Pagi UGM merupakan tempat yang paling sering saya kunjungi ketika kuliah dulu. Berangkat pagi untuk jogging atau sekadar jalan cepat saja, disambung dengan sarapan bubur manado, dan diakhiri dengan window shopping. Kalau pergi bersama teman-teman kos kegiatan jogging dilewati, langsung window shopping lalu makan dan pulang ke kos. Pasar Pagi UGM betul-betul menyediakan apa saja yang ada di pasar tekstil normal. Plus lapak memijat, pedagang makanan dan lain sebagainya.
     Sekarang Pasar Pagi UGM hanya dibatasi dari sekitar perempatan Colombo hingga pertigaan Kedokteran Hewan sepanjang satu lajur jalan. Lajur satunya dipakai untuk lalu lintas kendaraan. Areal Graha Sabha Pramana, Bunderan UGM, dan Masjid Kampus yang dulu diperbolehkan untuk berjualan sekarang steril dari pedagang. Menurut saya pengaturan ini bagus. Cuma sebaiknya kendaraan juga dilarang masuk ke area berjualan. Sangat tidak nyaman ketika sedang memilih barang diganggu dering klakson motor egois yang mau lewat.
     Pusat Grosir Solo memiliki konsep mirip dengan ITC kalau di Jakarta. Bangunan 5 lantai berlantai marmer putih yang dilengkapi musholla dan tempat parkir dan kios-kios berukuran 3m x 4m.Di lantai paling atas juga disediakan food court. Di PGS yang merupakan pusat tekstil Surakarta dapat ditemui batik baik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi dengan model terbaru dan harga murah (asal bisa nawar, lebih murah lagi kalau nawarnya pakai bahasa Jawa). Sebagian besar pedagang yang menjual batik juga menyediakan baju kebaya, berbagai macam kain, baju muslim dan jilbab dengan berbagai model, ukuran dan harga. Seperti layaknya pusat-pusat keramaian lain, tempat ini penuh dengan pengunjung ketika masa libur tiba dan akhir minggu.

0 komentar: