Minggu, 13 Oktober 2013

Multitasking

image courtesy of lifehacker.org

Sejak diperkenalkan smartphone pada 2007, semakin banyak orang melakukan beberapa hal sekaligus atau multitasking. Makan sambil nonton TV sekaligus mengecek email. Sering dijumpai pula sekelompok orang minum makan (alias nongkrong) sambil ngobrol DAN bermain social media.
Secara umum multitasking bisa diartikan melakukan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu. Biasanya orang-orang bermultitasking untuk menghemat waktu. Mereka beralasan dengan multitasking, tenaga, energi, perhatian dan waktu bisa digunakan seefektif mungkin.

Benarkah demikian? Dari pengamatan saya, multitasking hanya efektif dilakukan maksimal 2 hal sekaligus. Makan sambil nonton TV masih normal (walau waktu yang dipakai untuk makan jadi molor). Atau baca buku sambil mendengarkan musik. Tapi kalau makan sambil membaca sambil melihat TV? Hampir pasti waktu makannya bertambah lama, bacaan tidak ada yang masuk ke orak dan acara TV cuma sekelebatan teringat. Itu baru kegiatan sederhana. Kalau hal yang serius, seperti mengerjakan 2-3 proyek sekaligus dalam seminggu atau bahkan satu hari? Bisa-bisa tidak ada yang selesai dan mundur tenggat waktunya.
Sebetulnya Fokus pada satu hal saja lebih bermanfaat bagi manusia. Dengan fokus pada satu hal saja, kita bisa menghemat waktu dan tenaga. Kita juga bisa mengingat dengan baik manfaat kegiatan yang barusan dilakukan dengan fokus.
Tapi harus diakui sangat sulit berfokus pada satu hal saja saat ini. Smartphone selalu ada untuk mengganggu konsentrasi dan fokus. Entah notifikasi BBM, Whatsapp atau social media (twitter, Path, facebook) berbunyi mengganggu. Entah sedang bekerja, mengerjakan proyek, belajar, atau hanya leyeh-leyeh saja, smartphone tidak henti berbunyi meminta perhatian. Kalau tidak ditanggapi dikira sombong, kalau ditanggapi konsentrasi buyar dan fokus hilang.
Ada satu solusi super kuno agar bisa tetap fokus, yaitu kembali ke handphone kuno. Kalau perlu yang monokrom sekalian. Kenapa? Agar orang hanya bisa menghubungi kita lewat telepon atau SMS saja. Untuk bisa menelepon atau mengirim SMS, orang harus membayar dengan pulsa reguler. Kerelaan untuk mengeluarkan biaya itulah yang membedakan orang yang serius menghubungi kita dengan orang yang cuma iseng. Kita tidak akan terganggu dengan suara notifikasi yang meminta perhatian.
Solusi lain bagi pemilik smartphone iPhone dan Android adalah mematikan koneksi internet. Hal inilah yang paling sering saya lakukan. Kalau tidak ada koneksi internet, orang hanya bisa menghubungi kita lewat SMS atau telepon. Tapi konsentrasi kita juga bisa pecah kalau tergoda untuk bermain game atau app di smartphone.

Mematikan koneksi internet atau beralih ke handphone kuno bisa meningkatkan produktivitas kerja kita karena semakin sedikit pengganggu dan pengalih perhatian. Tinggal kita memilih, mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kita.

0 komentar: