Senin, 28 Oktober 2013

WRITING PROCESS

image courtesy of www.cgu.edu
Beberapa hari yang lalu saya sempat menghadiri salah satu acara yang diadakan @akberjogja yang memaparkan tema tantangan menulis. Dalam diskusi tersebut saya baru tahu bahwa sebagian besar naskah yang diterima penerbit adalah naskah fiksi. Perbandingannya 9:1, 9 naskah fiksi berbanding 1 naskah non-fiksi.

Bagi saya yang terbiasa membaca dan menulis karya-karya non-fiksi, hal tersebut sungguh mengejutkan. Terutama karena saya kurang bisa menyusun fiksi. Jangankan membuat penokohan karakter dan alur plot, membuat cerpen 500 kata saja saya kesulitan. Lebih mudah bagi saya mengarang tulisan how to, self help, atau opini. Cukup baca 5-15 buku atau jurnal, temukan ide, tambahkan berita dari koran hari ini, lalu biarkan tangan bergerak menulis sendiri. Lantas kenapa jarang orang Indonesia yang menulis karya non-fiksi?
Jawabannya saya dapat dari timeline @deelestari dan obrolan dengan beberapa kawan. Menurut mbak Dewi Lestari, kebanyakan fiksi di Indonesia masih berkutat pada rangkaian kata-kata. Alur cerita dan plot kurang tergarap. Pembaca akan segera terkesan dengan rangkaian kata-kata menawan di awal dan akan segera bosan, sampai enggan menamatkan buku.
Karena penasaran dengan opini mbak dewi, saya mencoba membaca beberapa novel fiksi lokal di Gramedia dan membandingkan dengan karya Meg Cabot dan Maurice LeBlanc. Kenapa dua novelis tersebut? Karena sebagian besar novel lokal, hampir 80%, bertema percintaan remaja dan saya tidak berpengalaman menganalisa tulisan humor yang memenuhi 15% sisanya, jadi saya pilih tulisan thriller.
Betul juga, ternyata novel-novel tersebut kering walau banjir kata-kata puitis. Jangankan dibandingkan dengan Meg Cabot, dikomparasikan dengan karya @vabyo atau @windyariestanti saja mereka kalah menarik. Novel-novel lokal tersebut tidak menimbulkan rasa penasaran dan memacu kita untuk membeli buku tersebut.
Walau kering dan mengambang (saya bingung menangkap apa maksud penulis fiksi-fiksi itu) saya tetap mengapresiasi keberanian penulis-penuis muda tersebut untuk menerbitkan bukunya. Susah lo membuat fiksi yang berkualitas. Yang perlu mereka lakukan mencakup menemukan editor yang mumpuni dan keberanian membedah karakter tokoh dan alur cerita. Karya mereka mungkin belum mampu menembus pasar avid reader, tapi dengan sedikit sentuhan humor dan target market segmen remaja, mereka tetap bisa menjual karya-karya mereka.
Pertanyaan kedua, kenapa jarang ada penulis non-fiksi berkualitas di Indonesia, terjawab ketika saya dan teman-teman sedang kongkow di perpustakaan. Kongkow? Iya, karena kami disitu bukan untuk membaca, belajar atau berdiskusi tapi ngobrol ngalor ngidul dan bergosip. Anekdot lama terulang. Budaya membaca masyarakat Indonesia memang rendah. Jangankan mahasiswa S1, mahasiswa pascasarjana seperti kami ini kadang enggan membaca buku atau jurnal. Disodori setumpuk Fortune atau GlobeAsia juga belum tentu tergerak membaca.
Padahal kemampuan menulis karya non-fiksi diawali dari kemauan dan kemampuan mengenali dan menganalisa masalah atau peristiwa. Dimana bisa mengenali masalah? Dari pengamatan sehari-hari. Dimana bisa belajar menganalisa? Dari membaca majalah, koran, jurnal atau paling bagus buku. Tidak membaca buku? Tidak terlatih menganalisa. Budaya lisan yang sedemikian mengakar di masyarakat Indonesia sepertinya belum luntur sejak masa Orde Lama.
Saya setuju semua orang bisa menulis. Tapi tidak semua orang bisa menghasilkan tulisan yang menarik dan berkualitas. Untuk menghasilkan karya yang berkualitas, seseorang harus rajin mengamati, membaca, berdiskusi dan berkonfrontasi. Cara paling mudah membedah ide adalah membandingkannya dengan tulisan yang mendeskripsikan ide terkait dan menganalisa keduanya.
Kita tidak bisa menulis tanpa sebelumnya rajin membaca. Kualitas tulisan dan penguasaan tata bahasa bakal amburadul. Bagaimana mau berdiskusi dan berdebat kalau tidak punya dasar fakta? Kita bakal terdengar seperti politikus picisan.
Menurut @adityamulya, industri buku di Indonesia sudah sangat maju. Buku-buku lokal bisa mengalahkan buku impor dan terjemahan. Mungkin saat ini kita baru menjadi jago kandang. Untuk bisa merangsek keluar ke pasar ASEAN, paling tidak kita perlu menambah jumlah tulisan dan penulis berkualitas. Oleh karena itu saya mendukung bertambahnya jumlah penulis-penulis baru dan meningkatnya kualitas tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi. Indonesia Negara Kita. Kita dukung kemajuan Negara dengan mengembangkan kualitas SDM Indonesia untuk meenghasilkan bacaan-bacaan berkualitas.

Selamat Hari Sumpah Pemuda Kawan 

0 komentar: