Selasa, 22 Oktober 2013

The Starbucks Experience by Joseph A. Michelli

    Saya asumsikan kita mengenal Starbucks. Kalau berkunjung ke Mall terbesar atau termewah di sebuah kota (terutama kota di Pulau Jawa) logo Starbucks berupa mermaid dengan mahkota bintang di dahinya siap menyambut kita. Untuk ukuran pelajar dan kaum menengah harga secangkir kopi Starbucks memang sangat mahal. Tapi di kalangan pegawai perkotaan dan kaum menengah ngehe Starbucks adalah lokasi tepat untuk kongkow, bergaul dan menunjukkan siapa mereka (alias ngeksis).
            The Starbucks Experience ditulis oleh Joseph Michelli, seorang konsultan pemasaran perusahaan. Isi buku ini berfokus pada 5 prinsip yang dianut Starbucks untuk mendekatkan diri dengan konsumen, masyarakat, pemasok dan pemegang sahamnya (istilah kerennya : stakeholders). Kelima prinsip tersebut adalah:
1.      Lakukan dengan cara anda
2.     Semuanya penting
3.     Surprise & Delight
4.     Terbuka terhadap kritik
5.     Leave your mark
            Michelli bercerita tentang bagaimana mitra (karyawan Starbucks dipanggil dengan sebutan mitra) diajari dan dilatih mengaplikasikan kelima prinsip tersebut dalam pekerjaannya. Misal saat ada pelanggan yang terlihat tertekan, seorang mitra akan menawari coklat cair panas dan menemaninya mengobrol. Atau mereka berkomitmen membeli biji kopi dari pemasok yang punya sertifikat Fair Trade dengan harga yang lebih mahal dibanding pemasok tanpa sertifikat.
            Starbucks Experience membuka mata kita bahwa ada cara-cara lain untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang tanpa harus menggilas pesaing dan tetap bekerjasama dengan komunitas di lingkungan tempat bisnis berjalan.
            Hal yang menarik dari buku ini adalah setiap selesai bercerita dan mendeskripsikan salah satu prinsip Starbucks, michelli akan menyediakan kolom kesimpulan yang berjudul “Gagasan untuk diserap” yang merangkum poin-poin penting dalam ceritanya. Kolom ini sangat membantu bila kita terburu-buru atau enggan membaca keseluruhan cerita.
            Ada pula kolom “Ciptakan pengalaman anda sendiri” yang berada dekat kolom kesimpulan untuk membantu pembaca memahami lebih baik suatu prinsip Starbucks dengan mengajkan pertanyaan yang berhubungan dengan pembaca, seperti “hal kecil apa yang butuh perhatian anda? Peluang apa yang telah anda lewatkan di tempat kerja anda? Bagaimana meraih status perusahaan yang dicintai? dan puluhan pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu pembaca untuk merenung, mencari ide dan bertindak agar bisa memperbaiki komunitasnya dan mengenal diri kita sendiri.
            Bahkan di akhir buku ada “panduan untuk pembaca” yang masih bertanya-tanya bagaimana menerapkan kelima prinsip Starbucks ke dalam hidup. Sungguh buku yang menyenangkan untuk dibaca.
            Kelemahan buku ini: Michelli tidak memaparkan apa yang harus dibayar mitra untuk memberi beberapa cangkir minuman gratis kepada pelanggan atau menemani mereka yang membutuhkan teman curhat atau memilih menggratiskan sejumlah makanan dan minuman saat bencana datang. Michelli hanya memuji-muji mereka karena hal-hal di atas. Ia tidak menambahkan sudut pandang mitra ke dalam tulisannya. Hanya kelebihan mereka dari sudut pandang pelanggan
            Starbucks Experience mungkin bukan buku yang sempurna karena hanya menceritakan keunggulan-keunggulan Starbucks. Namun setidaknya kita tahu bahwa di luar sana ada perusahaan yang bagus dan berusaha menerapkan nilai-nilainya ke operasi sehari-hari perusahaan.

0 komentar: